Penerimaan Perpajakan 2020 Bergantung pada Kinerja Pertumbuhan Ekonomi

Bisnis.com,19 Agt 2019, 17:23 WIB
Penulis: Muhamad Wildan
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kanan) didampingi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kiri), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso (kiri), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamim Simpanan (LPS) Halim Alamsyah memberikan paparan saat konferensi pers, di Jakarta, Selasa (30/7/2019)./Bisnis-Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi bakal menjadi tantangan bagi pemerintah dalam mencapai target perpajakan tahun depan.

Sri Mulyani mengungkapkan bahwa lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada angka 5,1%, sedangkan asumsi makro dalam RAPBN 2020 mematok pertumbuhan ekonomi pada angka 5,3%.

"Lembaga internasional memproyeksikan 5,1% ini suatu potensi down side risk," ujarnya, Senin (19/8/2019).

Selain tantangan dari sisi rendahnya ekspektasi global, Sri Mulyani juga mengungkapkan bahwa ada pula tantangan dari sisi domestik.

Insentif pajak yang digelontorkan oleh pemerintah tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi penerimaan pajak. Hal ini ditambah lagi dengan adanya sektor usaha yang sumbangsih pajaknya cenderung rendah.

Oleh karena itu, Sri Mulyani mengungkapkan pihaknya bakal terus mengintensifkan penerimaan perpajakan melalui reformasi perpajakan seperti penggunaan automatic exchange of information (AEoI) hingga komunikasi dengan stakeholder terkait.

Untuk diketahui, target penerimaan perpajakan pada RAPBN 2020 mencapai Rp1.861,8 triliun, tumbuh 13,3% dibandingkan dengan outlook penerimaan pajak 2019 yang mencapai Rp1.643,1 triliun.

Adapun rasio pajak ditargetkan meningkat dari 11,1% dalam outlook 2019 menjadi 11,5%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Achmad Aris
Terkini