BTN Pastikan Tambah Modal Akhir Tahun Ini

Bisnis.com,19 Agt 2019, 17:59 WIB
Penulis: M. Richard
Layanan nasabah di kantor PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) di Jakarta./JIBI-Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) memastikan penambahan modal melalui penerbitan obligasi subordinasi atau subdebt pada kuartal keempat tahun ini.

Total nilai emisi akan berkisar Rp7,5 triliun, yang terdiri dari pinjaman bilateral sebesar Rp3 triliun, dan junior global bond berkisar US$200 juta hingga $US250 juta.

Direktur Bank BTN Nixon L.P Napitupulu menjelaskan, penerapan pedoman standar akuntansi keuangan (PSAK) 71, yang akan mulai berlaku pada awal Januari 2020, akan menggerus modal cukup dalam sehingga perseroan merasa perlu untuk mengantisipasi hal tersebut.

“Sebenarnya, modal kami masih cukup. Hanya saja, untuk antisipasi, kami terbitkan subdebt yang kami bagi menjadi dua rupiah dan dolar,” katanya dalam public expose Bank BTN, Senin (19/8/2019).

Untuk pinjaman bilateral sebesar Rp3 triliun, Nixon menyampaikan perseroan tengah berbicara dengan salah satu institusi milik negara. “Pembicaraan ini masih berlangsung, tetapi kami prediksikan bisa selesai pada akhir tahun ini,” ujarnya.

Untuk junior global bond, perseroan juga tengah mengintensifkan komunikasi dengan beberapa perusahaan underwriter. Nantinya perseroan berharap junior global bond ini dapat di beberapa negara, seperti Asia, Eropa dan Amerika.

“Ini kami lagi picthing proses, dan mungkin kami terbitkan antara November 2019 atau Januari 2020,” ujarnya.

Nixon menjelaskan, perseroan mengambil langkah modified prospective approach, yakni menjaga kecukupan modal melalui penerbitan junior bond, yakni modal tier 2.

“Kekurangan untuk CKPN akan menggerus laba ditahan kami pada tahun depan. Lalu, modal kami tutupi dengan penerbitan subdebt ini,” ujarnya.

Setelah emisi subdebt, Nixon menyatakan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio /CAR) dapat ditingkatkan hingga 19 persen. Posisi modal tersebut akan cukup membantu perseroan mengembangan bisnis, bahkan hingga 2021.

Sementara itu, untuk 2021 atau 2022, BTN berharap bisa menerbitkan saham baru atau right issue untuk dapat meningkatkan modal lagi.

Berdasarkan catatan Bisnis, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia tahun lalu telah memberi dampak negatif terhadap kinerja Bank BTN. Laba bersih perseroan per Juni 2019 turun 9,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp1,3 triliun.

Selain dampak naiknya suku bunga acuan BI sebanyak 175 basis poin sepajang 2018, laba perusahaan juga tertekan karena kenaikan pencadangan, yang dipicu oleh naiknya rasio kredit bermasalah.

Pada paruh pertama tahun ini, rasio non performing loan terkerek 54 basis pon menjadi 3,32 persen dari posisi periode sama tahun lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: M. Taufikul Basari
Terkini