Cegah Shadow Banking, Fintech Harus Terintegrasi dengan Perbankan

Bisnis.com,29 Agt 2019, 17:20 WIB
Penulis: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Profil bisnis teknologi finansial di Indonesia./Bisnis-Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA -- Untuk memperkuat sistem pembayaran di era digitalisasi bidang keuangan dan finansial, Bank Indonesia mendorong integrasi perbankan dan teknologi finansial atau fintech.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan kemunculan digitalisasi layanan perbankan melalui fintech membutuhkan respons bank sentral untuk mencegah shadow banking.

"Munculnya digitalisasi layanan itu oleh fintech. Crowdfunding juga melalui P2P sistem keuangan ada uang elektronik ini perlu direspons tidak hanya perbankan tapi juga pengambil kebijakan yaitu bank sentral," terang Perry di The Anvaya Hotel, Kamis (29/8/2019).

Adapun peran bank sentral adalah memanfaatkan era digitalisasi guna mendorong ekonomi dan menjaga stabilitas. Salah satunya dengan memperkuar visi sistem pembayaran 2025.

Sementara itu, pada sektor keuangan perlu ditempatkan digitalisasi perbankan memasuki era digitalisasi agar tidak terjadi perbankan maya.

"Jadi fintech perlu disambungkan dengan digitalisasi perbankan. Agar tak jadi shadow," tutur Perry.

Selain mendorong sistem keuangan penting juga mendorong inovasi di berbagai sektor. Khususnya sektor riil, keuangan, dan perbankan.

"Ini harus seimbang antara inovasi dengan masalah stabilitas. Inovasi dengan risiko cyber," jelas.

Oleh sebab itu guna menjaga kepentingan nasional dalam digitalisasi antarnegara BI melakukan gerakan gerbang pembayaran nasional.

"Demikian juga melalui QRIS," sambungnya.

Kepala Institute Bank Indonesia Solikin M. Juhro menyatakan upaya dalam mengembangkan ekonomi digital dilakukan bank sentral juga dengan penguatan infrastruktur, regulasi, struktural, dan mengkaji mengenai digital channel bank.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Achmad Aris
Terkini