BI Pertahankan Suku Bunga Acuan Tetap 5 Persen

Bisnis.com,21 Nov 2019, 14:25 WIB
Penulis: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan penjelasan pada jumpa pers mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (21/3/2019). Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 6,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen. Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada November 2019 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga cuan pada level 5 Persen.

Suku bunga Deposit Facility tetap 4,25%, dan suku bunga Lending Facility tetap 5,75%. Kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan prakiraan inflasi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, berlanjutnya ketegangan hubungan dagang AS-China telah berdampak pada ekonomi dunia 2019 yang terus melambat. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan hanya tumbuh 3% pada 2019.

"Pelonggaran kebijakan moneter di berbagai negara belum mampu mencegah perlambatan ekonomi dunia," ujar Perry kepada pers usai RDG 20-21 November 2019 di Gedung BI, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Namun demikian, ke depan prospek pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan membaik. Di dalam negeri, perekonomian Indonesia tetap berdaya tahan meski sedikit melambat seiring perlambatan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi kuartal III/2019 relatif stabil meski sedikit turun dari periode sebelumnya. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Investasi bangunan tetap tumbuh dengan baik sejalan dengan berlanjutnya proyek-proyek infrastruktur nasional. "Secara spasial, pertumbuhan ekonomi di sejumlah daerah ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Kinerja ekspor di beberapa daerah juga tercatat baik," jelasnya.

Dengan demikian, sepanjang 2019 pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan 5,1%.

Posisi cadangan Indonesia cukup kuat dan kinerja neraca pembayaran Indonesia menunjukkan perbaikan. Sejalan dengan itu, realisasi defisit transaksi berjalan tercatat makin mengecil.

Nilai tukar rupiah menguat sejalan dengan kinerja neraca pembayaran yang membaik. Pada November, rupiah tercatat menguat 0,24%. Dengan perkembangan tersebut, rupiah sejak awal tahun hingga 20 November mengalami apresiasi sebesar 2,03%. "Penguatan rupiah didukung oleh pasokan valas dari para eksportir dan aliran modal asing yang terus masuk," jelas Perry.

Ke depan, BI memandang nilai tukar rupiah akan tetap stabil sesuai dengan nilai fundamentalnya dan prospek pasar keuangan.

Sebelumnya, RDG Bank Indonesia 23-24 Oktober 2019 memutuskan menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin menjadi 5,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5,75%.

Penurunan suku bunga tersebut merupakan keempat kalinya dengan total pemangkasan suku bunga sebanyak 100 basis poin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Achmad Aris
Terkini