BI Turunkan GWM Rupiah sebesar 50 Basis Poin

Bisnis.com,21 Nov 2019, 14:30 WIB
Penulis: Gloria Fransisca Katharina Lawi

Bisnis.com, JAKARTA - Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada November 2019 memutuskan untuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah untuk Bank Umum Konvensional dan Bank Umum Syariah/Unit Usaha Syariah sebesar 50 basis poin menjadi masing-masing 5,5% dan 4,0% dengan GWM rerata 3,0%.

"Keputusan ini berlaku efektif pada 2 Januari 2020," kata Gubernur BI Perry Warjiyo kepada pers usai menggelar RDG 20-21 November 2019 di Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Dalam RDG juga diputuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 5 Persen. Suku bunga Deposit Facility juga dipertahankan tetap 4,25%, dan suku bunga Lending Facility tetap 5,75%. "Kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan prakiraan inflasi," jelas Perry.

Menurut Perry, pelonggaran GWM dilakukan untuk menambah ketersediaan likuiditas perbankan dalam rangka meningkatkan pembiayaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi. "Strategi operasi juga terus diperkuat untuk tetap menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif."

Dengan demikian, Perry menyebut pihak perbankan akan menerima guyuran dana Rp26 triliun dengan masing-masing Rp24,1 triliun untuk bank umum, dan Rp1,9 triliun untuk bank umum syariah.

Perry menyatakan kebijakan ini adalah kebijakan mendorong pertumbuhan momentum ekonomi domestik dan menjaga stabilitas di tengah perlambatan ekonomi global.

Dia menyatakan, pelonggaran kebijakan ini konsisten dengan perkiraan inflasi yang relatif terkendali, dan imbal hasil investasi keuangan domestik yang tetap menarik.

Selain itu kebijakan ini didukung strategi operasi moneter yang terus diperkuat menjaga kecukupan likuiditas dan menjaga efektivitas bauran kebijakan yang akomodatif.

“Dan tetap menurunkan penyaluran kredit perbankan dan memperluas bagi perekonomian, dan bagi kebijakan pendalaman pasar keuangan,” tuturnya.

Perry mengatakan, berlanjutnya ketegangan hubungan dagang AS-China telah berdampak pada ekonomi dunia 2019 yang terus melambat. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan hanya tumbuh 3% pada 2019. "Pelonggaran kebijakan moneter di berbagai negara belum mampu mencegah perlambatan ekonomi dunia," ujar Perry.

Namun demikian, ke depan prospek pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan membaik. Di dalam negeri, perekonomian Indonesia tetap berdaya tahan meski sedikit melambat seiring perlambatan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi kuartal III/2019 relatif stabil meski sedikit turun dari periode sebelumnya. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Investasi bangunan tetap tumbuh dengan baik sejalan dengan berlanjutnya proyek-proyek infrastruktur nasional. "Secara spasial, pertumbuhan ekonomi di sejumlah daerah ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Kinerja ekspor di beberapa daerah juga tercatat baik," jelasnya.

Dengan demikian, sepanjang 2019 pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan 5,1%.

Posisi cadangan Indonesia cukup kuat dan kinerja neraca pembayaran Indonesia menunjukkan perbaikan. Sejalan dengan itu, realisasi defisit transaksi berjalan tercatat makin mengecil.

Nilai tukar rupiah menguat sejalan dengan kinerja neraca pembayaran yang membaik. Pada November, rupiah tercatat menguat 0,24%. Dengan perkembangan tersebut, rupiah sejak awal tahun hingga 20 November mengalami apresiasi sebesar 2,03%. "Penguatan rupiah didukung oleh pasokan valas dari para eksportir dan aliran modal asing yang terus masuk," jelas Perry.

Ke depan, BI memandang nilai tukar rupiah akan tetap stabil sesuai dengan nilai fundamentalnya dan prospek pasar keuangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Achmad Aris
Terkini