Suku Bunga BI Masih Bisa Dipangkas Hingga 4,75 Persen

Bisnis.com,27 Jan 2020, 12:06 WIB
Penulis: Lorenzo Anugrah Mahardhika
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (dua kanan) memberikan keterangan dalam konferensi pers, di Jakarta, Kamis (20/6/2019)./Bisnis-Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) diperkirkan memiliki ruang penurunan suku bunga acuan, BI 7-Day Reverse Repo Rate (7-DRRR), hingga 75 basis poin sampai akhir tahun 2020.

Peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan Republik Indonesia Eric Alexander Sugandi melihat ruang pemangkasan suku bunga masih terbuka lebar didukung inflasi yang relatif rendah dan terkendali.

Selain itu, dia menjelaskan perbedaan suku bunga riil antara Indonesia dengan negara-negara maju masih cukup besar. Eric pun memperkirakan BI akan menurunkan suku bunga acuan sekitar 75 basis poin.

“Diperkirakan suku bunga acuan akan berada di level 4,25% pada akhir tahun 2020,” jelas Eric, dalam catatannya, Senin (27/1/2020).

Selain itu, dia juga mengungkapkan rupiah masih 'undervalued' jika melihat faktor fundamental murni, tanpa memperhitungkan persepsi pelaku pasar dan guncangan eksternal.

Interest rate differential, baik nominal atau riil, antara SBN dan surat utang di negara maju masih cukup besar jika suku bunga acuan dipangkas hingga 4,25%.

"SBN masih tetap atraktif dilihat dari yield-nya. Jadi masih ada ruang untuk cut BI 7-DRRR dengan dampak yang relatif terbatas terhadap rupiah," papar Eric.

Terkait dengan peringkat utang Indonesia pada level BBB/outlook stabil (Investment Grade), dia memperkirakan hal ini tidak berdampak banyak pada pergerakan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN). Pasalnya, rating tersebut hanya merupakan afirmasi dari peringkat yang sudah ada.

“Peringkat ini juga tidak menunjukkan kemungkinan peningkatan peringkat SBN dalam jangka dekat dengan adanya pernyataan outlook yang stabil,” ujarnya.

Adapun, imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun dari 6,8% pada penutupan perdagangan 17 Januari 2020 ke 6,7% pada penutupan perdagangan 24 Januari 2020. Menurut Eric, penurunan tersebut menunjukkan kenaikan harga SBN.

Sebelumnya, BI meyakini penahanan suku bunga acuan level 5,00% bersamaan dengan penguatan rupiah akan mengerek kinerja ekspor Indonesia. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan penguatan rupiah yang terjadi sejalan dengan perbaikan fundamental ekonomi yang akan mendorong peningkatan aliran modal asing.

Imbas lainnya adalah kondisi tersebut akan menambah pasokan untuk ekspor, dari sisi penambahan suplai dan tambahan devisa, maupun dari sisi impor dan pembayaran utang luar negeri (ULN).

“Ini sejalan dengan mekanisme pasar yang membaik, volume meningkat, kuotasi meningkat, supply demand berjalan dengan baik, dan DNDF yang jaga stabilitas nilai tukar rupiah,” jelas Perry di Bank Indonesia, pekan lalu.

Perry menyebut penguatan rupiah ini baik untuk pertumbuhan ekonomi dan peningkatan investasi. Dia memerinci, penguatan rupiah membuat ekspor komoditas ikut menguat seiring dengan harga dan permintaan yang naik. Dia menilai kondisi tersebut akan banyak membantu ekspor manufaktur yang terdongkrak seiring dengan produksi yang meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Hadijah Alaydrus
Terkini