Meramal Masa Depan Transaksi Bank Berbasis Kartu

Bisnis.com,10 Feb 2020, 20:15 WIB
Penulis: Maria Elena & Ni Putu Eka Wiratmini
Ilustrasi/Lifehacker

Bisnis.com, JAKARTA - Tren digital savvy yang semakin banyak mendapatkan kemudahan bertransaksi secara nontunai mulai menggerus transaksi berbasis kartu.

Secara industri, Bank Indonesia mencatat volume transaksi menggunakan kartu ATM dan ATM dan debit pada 2019 tercatat tumbuh 9,67 persen yoy, melambat dibandingkan dengan 2018 yang tumbuh 12,54 persen.

Di sisi lain, nilai transaksi juga turut mengalami perlambatan, dari 11,71 persen pada 2018 menjadi sebesar 7,01 persen pada 2019.

Perlambatan transaksi tersebut pun dibenarkan oleh salah satu bank milik negara (Himbara), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Direktur Teknologi Informasi dan Operasi BNI Dadang Setiabudi mengatakan sistem pembayaran menggunakan aplikasi berbasis QR code ataupun NFC (near field communication), saat ini memang sedang marak, baik yang diterbitkan oleh bank maupun perusahaan teknologi finansial (tekfin).

Namun menurutnya, sejauh ini secara persentase proporsi, transaksi berbasis nonkartu masih belum terlalu besar terhadap total transaksi yang berjalan di industri. Sehingga menurut Dadang, dalam satu tahun hingga dua tahun ke depan, penggunaan kartu masih tetap diandalkan di industri.

"Dalam 1 tahun hingga 2 tahun ke depan kemungkinan besar transaksi masih didominasi oleh alat pembayaran yang berbasis kartu, baik kartu debit maupun kartu kredit. Hal tersebut diakibatkan karena metode pembayaran yang menggunakan uang elektronik berbasis server memiliki limit dalam transaksi, sehingga untuk transaksi dengan jumlah besar masyarakat masih menggunakan kartu," katanya kepada Bisnis, Senin (10/2/2020).

Kepala Divisi Product Management BNI Donny Bima juga beranggapan dalam 5 tahun terakhir secara industri, transaksi belanja menggunakan kartu debit memang menunjukkan perlambatan meski tetap mencatat pertumbuhan yang positif.

Menurutnya, hal ini tidak dapat dipungkiri karena perlambatan tersebut banyak dipengaruhi oleh berkembang pesatnya alternatif mode pembayaran tanpa uang tunai (cashless) yang sebelumnya terfokus pada transaksi berbasis kartu.

Transaksi berbasis kartu juga terdisrupsi oleh cashless transaction berbasis apps wallet atau dompet digital yang banyak dirilis oleh perusahaan teknologi finansial.

Tren cashless ini pun ikut didorong dengan kemudahan pembukaan akun, serta model campaign yang agresif berbentuk subsidi belanja atau promo, sehingga nasabah memiliki alternatif lain untuk belanja secara nontunai.

"Meski demikian, dengan strategi yang terukur dan fokus untuk menggarap nasabah yang loyal dan logis, pertumbuhan transaksi belanja kartu debit BNI masih tumbuh dengan angka pertumbuhan yang relatif cukup baik," jelasnya.

Dadang menambahkan perseroan telah melakukan antisipasi terhadap perlambatan transaksi berbasis kartu tersebut, yakni dengan pengembangan LinkAja, yang merupakan dompet digital hasil kolaborasi bank-bank Himbara.

"Kami sudah persiapkan dengan baik, yaitu dengan kolaborasi Himbara dengan LinkAja. LinkAja ke depan akan menjadi alat pembayaran yang multi fungsi, karena LinkAja akan memaksimalkan fitur pembayarannya menggunakan sumber dana kartu debit dan kartu kredit disamping yang saat ini sudah berlangsung yaitu uang elektronik sebagai sumber dananya," tutur Dadang.

Dengan demikian, dia menambahkan nasabah BNI akan dipermudah dalam melakukan transaksi tanpa harus menggunakan kartu.

Pengamat keamanan siber dari Communication & Information System Security Research Center (CISSRec) Pratama Persadha berpendapat jika melihat tren saat ini, maka peran mesin electronic data capture (EDC), yang menggunakan alat transaksi berbasis kartu akan teralihkan.

Pratama mencontohkan alat transaksi seperti QR code saat ini sudah mulai digunakan beberapa toko peritel besar sebagai pengganti kartu member. Hal ini secara teknis juga sebenarnya dapat digunakan untuk menggantikan fungsi EDC saat memproses transaksi kartu debit dan kartu kredit.

"Ke depannya QRIS akan menggusur EDC. Namun, memang untuk saat ini, EDC masih diperlukan karena ada transaksi dengan kartu dan ada juga model QR code yang tidak statis yang dicetak dengan mesin EDC," jelas Pratama.

ALTERNATIF SISTEM PEMBAYARAN

Sementara itu, Deputi Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Ricky Satria mengatakan penerapan QRIS bertujuan untuk menyediakan berbagai opsi cara pembayaran bagi masyarakat. Penerapan QRIS tidak berarti mengurangi porsi penggunaan kartu.

Hanya saja, terkait proyeksi porsi penggunaan kartu dan metode pembayaran QRIS pihaknya belum bisa memprediksi. "Let’s see. Let the time tell it," katanya kepada Bisnis, Senin (10/2/2020).

Terpisah, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. juga menilai transaksi menggunakan kartu tidak akan tergantikan meskipun penetrasi QRIS meningkat.

Direktur Consumer & Retail Transaction Bank Mandiri Hery Gunadi mengatakan kartu tetap akan digunakan sebagai salah satu pilihan transaksi nasabah. Apalagi, transaksi dengan menggunakan QR maupun kartu memiliki kegunaan yang berbeda.

Sementara itu, Bank Mandiri mencatat pergerseran ke arah digital terus terjadi. Saat ini, sebanyak 95 persen transaksi telah dilakukan secara digital dan sisanya melalui kantor cabang.

Transaksi melalui mesin EDC masih didominasi oleh penggunaan kartu debit & kredit dengan porsi 84 persen. Sisanya, menggunakan uang elektronik sebesar 15 persen, dan lainnya. Transaksi QR yang terjadi saat ini baru mencapai 0,3 persen dari total transaksi yang terjadi.

Meskipun transaksi QR relatif masih kecil, Bank Mandiri meyakini ke depan potensi payment dengan metode tersebut akan mendominasi transaksi pembayaran.

"Harapannya makin banyak pakai QR, tetapi tidak mungkin, kartu tetap, tergantung purpose. Kegunaan dengan QR kan transaksi kecil, kalau jumlah besar pakai kartu," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini