Di Tengah Virus Corona, Bank Tetap Bidik KPR Tumbuh Tinggi

Bisnis.com,10 Mar 2020, 20:21 WIB
Penulis: Ni Putu Eka Wiratmini
Foto udara kawasan perumahan di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (23/2/2020). Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA - Industri perbankan di Indonesia masih optimistis dalam menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) dengan menyasar perumahan siap huni.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. tetap menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) yang tinggi pada tahun ini, yaitu dengan pertumbuhan 8 persen dibandingkan dengan 2019.

Executive Vice President Consumer Loans Bank Mandiri Ignatius Susatyo Wijoyo mengatakan dari segi pembelian properti untuk melakukan investasi yakni dengan rumah harga kisaran Rp1 miliar hingga Rp5 miliar memang mengalami penurunan sejak tahun lalu.

Hanya saja, pembelian properti untuk hunian tetap menunjukkan pertumbuhan, khususnya untuk harga rumah di bawah Rp1 miliar. Selain itu, pasar rumah dengan harga di atas Rp5 miliar tetap menunjukkan market potensial, meskipun pembelinya terbatas.

Tahun ini, Bank Mandiri menargetkan pencairan baru kredit pemilikan rumah (KPR) berada di kisaran Rp12 miliar sampai Rp13 miliar. Target tersebut masih sama dengan target tahun lalu.

Namun, pada tahun lalu dari target yang sebesar Rp13 triliun, pencairan kredit baru tercapai senilai Rp10 triliun. Baki debit atau saldo penyaluran KPR tahun ini dijaga pada angka Rp47 triliun meningkat dari tahun lalu yang senilai Rp44 triliun.

Pada 2019, penyaluran KPR mencapai 46,9 persen dari total kredit konsumer Bank Mandiri. Pertumbuhan KPR pada 2019 adalah sebesar 2,8 persen atau melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Bank Mandiri tahun ini tetap memiliki target tinggi untuk penyaluran KPR dengan pertumbuhan sebesar 8 persen.

"Tahun ini kami benar-benar fokus pada developer tier 2 primary secondary ke harga-harga di bawah Rp1 miliar. Jadi, rumah baru dan bekas yang benar-benar dihuni," katanya kepada Bisnis, Selasa (10/3/2020).

Menurutnya, pasar properti tetap akan menarik karena kebijakan penyaluran KPR Bank Mandiri memanfaatkan payroll loan. Setidaknya, nasabah dengan payroll di bawah Rp20 juta dan berusia pada rentang usia 21 sampai 35 tahun berjumlah 500.000 nasabah, sehingga memiliki potensi penyaluran KPR yang besar.

Pada Maret 2020, diyakini pertumbuhan pencairan baru KPR lebih tinggi dibandingkan dengan dua bulan sebelumnya. Pada Januari hingga Februari 2020, pencairan baru KPR tercatat baru senilai Rp1,3 triliun.

Pencairan baru tidak terlalu besar pada Januari 2020 karena masih merupakan awal tahun dan adanya bencana banjir di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Sementara itu, pencairan baru pada Februari juga tergolong rendah karena bulan pendek dan adanya isu virus corona. Namun, pada Maret 2020, pencairan baru menunjukkan pertumbuhan dengan rata-rata per hari sebesar Rp30 miliar-Rp50 miliar.

"Selama hunian pembeli end user, KPR pertama dihuni, kami masih yakin akan tumbuh. Kalau untuk investasi memang kemungkinan akan berhenti," katanya.

PT Bank CIMB Niaga Tbk. juga belum mengubah target penyaluran KPR tahun ini meskipun sejumlah kendala seperti virus corona maupun adanya survei konsumen Bank Indonesia yang menyatakan penurunan pembelian properti.

Adapun, target penyaluran KPR CIMB Niaga pada tahun ini adalah sebesar 12,5 persen ke atas dengan tetap fokus menyasar perumahan kelas menengah. Tahun lalu, pertumbuhan KPR CIMB Niaga tumbuh 12,5 persen dengan nilai Rp33,78 triliun di tengah kelesuan sektor properti.

Direktur Konsumer Bank CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan perseroan saat ini masih memantau perkembangan minat masyarakat untuk membeli properti. Kemungkinan masyarakat untuk memilih lebih berhati-hati atau menahan pembelian KPR maupun pinjaman lainnya masih dapat terjadi.

CIMB Niaga mengaku saat ini masih melihat perkembangan pasar. Begitu juga akan berhati-hati dari sisi penerapan underwriting.

"Saat ini kami belum secara formal merubah target, tetapi kami juga hati-hati untuk melihat kondisi dulu," katanya.

Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan faktor kekhawatiran virus corona, perang dagang, dan berkurangnya pendapatan masyarakat kelas menengah dari bonus, insentif perusahaan mempengaruhi kepercayaan untuk belanja.

Bhima pun memproyeksikan kredit konsumsi ke depannya tumbuh melambat karena masyarakat mencoba untuk menahan pengeluaran.

Sementara dari sisi perbankan, Bhima menilai banyak yang hati-hati dan tidak agresif menwarkan kredit konsumsi. Hal ini lantaran bank mau menjaga kuatlitas kredit tetap berada di level yang sehat, yakni dengan rasio kredit bermasalah tetap di bawah 3 persen.

Adapun, berdasarkan hasil analisis uang beradar BI, kredit properti mengalami perlambatan sejalan dengan kondisi industri keseluruhan, di mana tercatat tumbuh 9,3 persen secara tahunan (yoy) pada Januari 2020, dibandingkan dengan Desember 2019 yang tumbuh 9,7 persen yoy.

Pertumbuhan kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) melambat, dari 8,0 persen yoy pada Desember 2019 menjadi 7,7 persen yoy pada Januari 2020, yang disebabkan oleh kredit KPR tipe 22-70 m2 di wilayah Jawa Barat dan Banten.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini