BP Jamsostek Tingkatkan Belanja Saham Murah

Bisnis.com,16 Mar 2020, 11:04 WIB
Penulis: M. Nurhadi Pratomo
Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto menyampaikan paparan pada rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (11/2/2019)./ANTARA-Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau kini dikenal dengan BP Jamsostek akan menyerap saham-saham bervaluasi murah dengan fundamental baik di tengah merosotnya indeks harga saham gabungan (IHSG) beberapa hari ini.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto mengatakan selaku pengelola dana panjang, pihaknya memandang momentum ini sebagai kesempatan untuk mendapatkan saham berfundamental bagus dengan harga relatif murah.

“[Saat ini] momentum kami untuk masuk ke pasar saraham," ujarnya usai membuka perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Senin (16/3/2020).

Agus mengatakan terus mengevaluasi total dana yang akan dialokasikan ke pasar saham. Sebagai gambaran, sepanjang Januari hingga Februari 2020, BP Jamsostek telah bertransaksi senilai Rp20 triliun. 

Rinciannya membeli Rp10 triliun dan menjual Rp9 triliun. Dengan demikian, tercatat beli bersih atau net buy senilai Rp1 triliun.

“Alokasi sampai akhir tahun Rp6 triliun - Rp8 triliun dengan asumsi hanya beli saja tidak menjual,” paparnya.

Saat ini total dana kelolaan perseroan mencapai Rp431 triliun per akhir Desember 2019. Dari nilai itu, 19 persen dialokasikan ke pasar saham dan 9 persen ke instrumen reksa dana.

Agus mengatakan sebelum memutuskan masuk ke suatu saham, selain harga dan fundamental, BP Jamsostek juga akan mempertimbangkan kapitalisasi pasar, ketahanan terhadap isu global, serta rasio pembayaran dividen.

Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri mengatakan momen koreksi saham seperti saat ini jarang terjadi. Kendati tidak menutup kemungkinan downside, pihaknya meyakini kondisi itu dapat segera teratasi.

“Banyak saham valuasinya sudah murah,” tuturnya.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengatakan respons investor atas penyebaran virus corona telah membuat pasar saham mengalami penurunan 22 persen. Menurutnya, para investor tidak boleh diam saja untuk menanggapi kondisi itu.

“Saatnya untuk membeli saham berfundamental baik,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Anggara Pernando
Terkini