Nasabah Pilih Instrumen yang Aman, DPK Bank Meningkat

Bisnis.com,31 Mar 2020, 14:42 WIB
Penulis: Maria Elena
Karyawan merapikan uang di cash center Bank BNI, Jakarta, Selasa (11/2/2020). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom memperkirakan peningkatan jumlah dana masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK) akan terus mengalami peningkatan di tengah pandemi COVID-19.

Bank Indonesia mencatat, DPK yang dihimpun perbankan per Februari 2020 sebesar Rp5.806,9 triliun, atau tumbuh 7,5 persern secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan Januari 2020, di mana DPK tercatat sebesar Rp5.721,9 triliun atau tumbuh 6,6 persen (yoy0.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan kondisi tersebut menunjukkan masyarakat mulai memperbanyak saving dan menjaga likuiditas dalam jangka pendek.

Menurutnya, tabungan dan deposito di perbankan masih dilihat sebagai instrumen yang aman, sehingga menjadi pilihan masyarakat untuk menempatkan dana, apalagi di tengah situasi pandemi COVID-19.

“Dalam situasi yang memburuk akibat wabah corona, perilaku masyarakat menentukan jumlah uang simpanan. Tabungan dan deposito di bank dianggap aset yang aman,” katanya kepada Bisnis, Selasa (31/3).

Adapun, pada Februari 2020 peningkatan DPK dikontribusi oleh semua jenis simpanan, baik giro, tabungan, maupun simpanan berjangka.

Perinciannya, giro tercatat meningkat dari 11,1 persen (yoy) pada Januari 2020 menjadi 12,7 persen (yoy) pada Februari 2020. Peningkatan terjadi pada wilayah Jawa Timur dan Sumatera Utara.

Pada periode yang sama, jumlah tabungan meningkat sebesar 8,2 persen (yoy), lebih tinggi dari Januari 2020 sebesar 7,4 persen (yoy). Berdasarkan lokasi, peningkatan terjadi di DKI Jakarta dan Jawa Timur.

Di samping itu, simpanan berjangka atau deposito juga mengalami peningkatan sebesar 4,5 persen (yoy). Pada Januari 2020, deposito tercatat hanya tumbuh 3,9 persen (yoy). Peningkatan juga dikontribusi dari wilaya DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Sementara itu, penyaluran kredit perbankan tercatat melambat hampir pada seluruh segmen. Per Februari 2020, kredit perbankan yang disalurkan tercatat sebesar Rp5.544,0 triiun atau tumbuh 5,5 persen secara tahunan.

Berdasarkan jenis penggunaannya, perlambatan kredit terjadi pada segmen modal kerja, investasi dan konsumsi. Kredit modal kerja tercatat hanya tumbuh 2,6 persen (yoy). Kontributor perlambatan tersebut di antaranya pada sektor konstruksi, serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran.

Kredit investasi tercatat mengalami sedikit perlambatan, dari 10,1 persen (yoy) pada Januari 2020 menjadi 10,0 persen pada Februari 2020. Perlambatan terjadi pada sektor konstruksi, keuangan, real estat, dan jasa perusahaan.

Adapun, kredit konsumsi tercatat tumbuh 6,1 persen (yoy) pada Februari 2020, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tumbuh 6,2 persen (yoy), yang disebabkan oleh melambatnya kredit pemilikan rumah (KPR).

Bhima menilai, daya beli masyarakat saat ini tengah mengalami tekanan, sehingga berdampak juga pada kekhawatiran sulit menyicil jika mengajukan kredit baru.

Sementara di sisi perbankan, bank juga berjaga-jaga karena mengkhawatirkan peningkatan kredit bermasalah atau non-performing loan/NPL dan banyaknya permintaan penangguhan cicilan kredit selama 1 tahun.

“Akhirnya shock terjadi di dua sisi yakni permintaan dan penawaran kredit. Tren pertumbuhan DPK yang lebing tinggi diperkirakan akan berlanjut,” tutur Bhima.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Ropesta Sitorus
Terkini