Shell Janjikan Peningkatan Dividen dan Buyback Saham, Tapi Ada Syaratnya!

Bisnis.com,14 Mei 2020, 14:17 WIB
Penulis: Hafiyyan
Karyawan menggunaan helm berlogo Shell di fasilitas pencampuran pelumas di Rusia (7/2/2018). Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA - Royal Dutch Shell Plc. berkomitmen kepada pemegang saham untuk meningkatkan pembayaran dividen setelah pasar minyak pulih. Sebelumnya, investor dikagetkan dengan pemangkasan pemberian dividen pada bulan lalu yang mengejutkan.

Dikutip dari Bloomberg, pedoman keuangan Shell amburadul akibat kejatuhan harga minyak yang begitu dalam. Perusahaan raksasa minyak lainnya pun seperti Exxon Mobil Corp dan Equinor ASA membekukan atau mengurangi dividen.

"Ketika prospek kami kembali stabil, neraca keuangan berada di posisi tepat, kami berada dalam posisi yang sangat kuat untuk meningkatkan distribusi pemegang saham," papar Chief Financial Officer Shell Jessica Uhl dalam pembicaraan dengan investor, Rabu (13/5/2020).

Dengan demikian, Shell berkomitmen akan adanya potensi pembagian dividen dan pembelian saham kembali (buyback) ke depannya.

Sebelumnya Shell merencanakan akan melakukan buyback senilai US$25 miliar pada Januari 2020. Namun, pada bulan lalu aksi korporasi tersebut dibatalkan karena tingkat keparahan pasar minyak akibat Covid-19 belum jelas.

Salah seorang investor mengakui pemotongan dividen Shell hingga 67 persen, terbesar di antara perusahaan minyak lainnya, turut menekan saham perusahaan.

Namun demikian, manajemen bersikeras meski keputusan itu sulit, pemangkasan dividen harus diambil untuk keberlangsungan perusahaan ke depannya.

"Perusahaan harus menarik tuas [rem] keuangan lebih keras dari yang kita inginkan. Memotong dividen tidak berarti Shell memiliki lebih banyak uang untuk belanja, tetapi setidaknya tidak perlu menambah beban pinjaman," ujar CEO Shell Ben van Beurden.

Uhl menyampaikan produksi perusahaan pada kuartal II/2020 akan turun 10 - 20 persen, karena sejumlah aset perusahaan di negara-negara OPEC telah berjanji membatasi produksi. Di sisi lain, ada kendala logistik dan aktivitas ekonomi lainnya.

"Diperkirakan masa tekanan terhadap industri bisa hingga 2021 - 2022," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Hafiyyan
Terkini