Duh! Penyaluran Kredit Properti Tersendat pada April 2020

Bisnis.com,03 Jun 2020, 15:14 WIB
Penulis: Ni Putu Eka Wiratmini
Kendaraan bermotor melintas di depan gedung apartemen di Jakarta, Jumat (29/5/2020). Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Kredit properti pada April 2020 kembali mengalami perlambatan dari 7,4 persen secara tahunan pada Maret 2020 menjadi 6,5 persen yoy pada April 2020.

Berdasarkan analisis uang beredar Bank Indonesia, perlambatan kredit properti disebabkan oleh melambatnya penyaluran kredit perumahan rakyat (KPR) maupun kredit pemilikan apartemen (KPA), kredit real estate, dan kredit konstruksi.

Pertumbuhan kredit KPR maupun KPA melambat dari 6,6 persen yoy pada Maret 2020 menjadi 5,4 persen yoy pada April 2020. Kredit konstruksi tercatat melambat dari 8,8 persen yoy pada Maret 2020 menjadi 8,0 persen yoy pada April 2020, terutama pada konstruksi jalanan tol.

Sementara itu, kredit real estate melambat dari 7,2 persen yoy menjadi 6,9 persen yoy pada April 2020, terutama pada kredit real estate perumahan flat atau apartemen.

Selain kredit properti, kredit pada sektor UMKM pada April 2020 juga mengalami perlambatan menjadi 3,8 persen yoy dari 6,9 persen yoy pada Maret 2020. Perlambatan kredit UMKM terjadi pada seluruh skala usaha yaitu mikro, kecil, dan menengah.

Perlambatan kredit juga terjadi pada seluruh jenis kredit UMKM yaitu modal kerja dan investasi.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Pahala Nugraha Mansury mengatakan bisnis Bank BTN di tengah pandemi Covid-19 tertolong dari KPR bersubsidi.

Pada Maret dan April 2020, penyaluran KPR bersubsidi masih tumbuh sampai 10 persen dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy). Namun, penyaluran KPR nonsubsidi turun hampir 40 persen yoy.

Artinya, KPR bersubsidi memiliki kondisi yang lebih bagus dibandingkan KPR nonsubsidi. Meskipun demikian penyaluran kredit secara umum diakuinya mengalami perlambatan.

"Kalau masih growth ya karena pertumbuhan didorong oleh KPR subsidi. Jadi, kembali ke properti di harga berapa Rp150 juta sampai Rp300 juta dan Rp300 juta sampai Rp500 juta masih oke," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini