Kinerja Asuransi Umum Tahun Ini Diproyeksikan Negatif hingga 25 Persen

Bisnis.com,14 Jun 2020, 17:53 WIB
Penulis: Wibi Pangestu Pratama
Karyawan melintasi logo-logo perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Jakarta, Selasa (11/02/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memproyeksikan asuransi umum akan mencatatkan kinerja negatif 15 persen–25 persen sepanjang 2020 sebagai dampak dari pandemi virus corona. Dalam skenario terburuk, koreksi diperkirakan bisa mencapai 30 persen.

Pada kuartal pertama tahun ini, industri asuransi umum mencatatkan pertumbuhan premi 0,4 persen (year-on-year/yoy) dengan nilai Rp19,84 triliun. Jumlah tersebut naik senilai Rp79,18 miliar dari capaian premi kuartal pertama 2019, yang senilai Rp19,76 triliun.

Wakil Ketua Bidang Statistik dan Riset AAUI Trinita Situmeang menjelaskan bahwa terjadi perlambatan pertumbuhan premi jika dibandingkan dengan tahun lalu. AAUI mencatat bahwa perolehan premi kuartal I/2019 tumbuh 18,96 persen dibandingkan dengan premi kuartal I/2018 senilai Rp16,61 triliun.

Menurut Trinita, perlambatan kinerja tersebut berpotensi terus terjadi sepanjang tahun seiring pandemi Covid-19 yang menghambat aktivitas perekonomian. AAUI bahkan memperkirakan industri asuransi umum akan mencatatkan kinerja negatif saat menutup buku 2020.

"Kami melakukan studi di asosiasi, mempertimbangkan angka yang ada, saat ini memprediksi pertumbuhan pada akhir tahun berkisar 15 persen–25 persen karena akan terjadi penurunan cukup signifikan di lini asuransi yang menjadi kontributor terbesar [perolehan premi]," ujar Trinita pada Jumat (14/6/2020).

Dia memaparkan bahwa berdasarkan stress test yang dilakukan AAUI, asuransi umum akan mencatatkan kinerja negatif 17,5 persen dalam kondisi yang relatif aman dan negatif 25 persen dalam kondisi buruk. Adapun, jika dampak pandemi Covid-19 sangat menekan perekonomian Indonesia, kinerja asuransi umum dinilai bisa anjlok hingga negatif 30 persen.

"Kami berharap tidak sampai 30 persen, tetapi saat ini skenario yang kami tunjukkan ada angka itu," ujarnya.

Dua lini bisnis utama asuransi umum, yakni asuransi properti dan asuransi kendaraan bermotor mencatatkan penurunan total premi pada kuartal pertama tahun ini meskipun kinerja masing-masing lini berbeda. Premi asuransi properti tercatat menurun sedangkan asuransi kendaraan bermotor meningkat.

Asuransi properti mencatatkan premi Rp4,2 triliun sepanjang kuartal I/2020 atau turun 5,2 persen (yoy) dari capaian premi Rp4,66 triliun pada kuartal I/2019. Adapun, asuransi kendaraan mencatatkan premi Rp4,97 triliun pada kuartal pertama tahun ini, naik 4,9 persen (yoy) dari total premi Rp4,74 triliun pada kuartal I/2019.

Kedua lini tersebut mencatatkan total premi Rp9,4 triliun sepanjang kuartal I/2020 atau mencakup 47,4 persen dari total premi asuransi umum. Catatan tersebut menurun jika dibandingkan dengan total premi Rp9,41 triliun pada kuartal I/2019 atau mencakup 47,6 persen dari total premi asuransi umum saat itu.

Trinita menjelaskan bahwa kinerja kuartal I/2020 tersebut belum sepenuhnya terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tercatat merebak di Indonesia sejak awal Maret 2020. Namun, penyebaran virus yang terus berlangsung diperkirakan akan sangat memengaruhi jalannya bisnis asuransi umum.

Dia menjabarkan bahwa di lini asuransi properti akan banyak perusahaan yang menurunkan cakupan polisnya untuk menghemat beban pengeluaran. Misalnya, suatu perusahaan yang mulanya mengasuransikan gedung dengan cakupan risiko all risk dan gempa bumi, akan menghentikan tambahan manfaat gempa bumi terlebih dahulu.

Lalu, penurunan premi properti pun diproyeksikan terjadi dari nasabah-nasabah perusahaan manufaktur. Terkendalanya operasi di sejumlah sektor industri membuat mereka perlu mengatur arus kas, sehingga bukan tidak mungkin beban asuransi akan dikurangi.

Meskipun pada kuartal pertama asuransi kendaraan bermotor mencatatkan kinerja positif, Trinita menilai bahwa terdapat potensi koreksi sepanjang tahun berjalan. Penilaian tersebut sejalan dengan proyeksi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) bahwa akan terdapat penurunan penjualan kendaraan bermotor pada tahun ini.

"Beberapa bulan setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar [PSBB] mungkin [kinerja asuransi] melambat, asuransi dari pembiayaan mungkin turun signifikan, asuransi kredit juga akan berkurang karena perbankan melakukan risk management," ujar Trinita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini