Penyebab Saham Bank BUKU IV Tancap Gas

Bisnis.com,16 Jun 2020, 12:41 WIB
Penulis: M. Nurhadi Pratomo
Pekerja membersihkan dinding kantor Bank Central Asia (BCA) di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (16/6/2020). Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — Keputusan stimulus tambahan dari The Federal Reserve mendorong laju saham empat emiten perbankan kelompok bank umum kegiatan usaha IV setelah sempat kompak terkoreksi sesi sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks harga saham gabungan (IHSG) tancap gas sejak pembukaan perdagangan, Selasa (16/6/2020). Indeks parkir di zona hijau dengan 3,02 persen ke level 4.961,718 pada penutupan sesi pertama.

Sektor saham keuangan menjadi pendorong utama laju IHSG sepanjang sesi pertama dengan menguat 4,50 persen. Empat bank kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV menjadi top leaders pergerakan indeks.

Bloomberg mencatat PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 5 persen ke level Rp28.875. Saham perbankan Grup Djarum itu mencetak net buy atau beli bersih investor asing Rp78,77 miliar.

Selanjutnya, emiten perbankan milik negara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. juga menguat signifikan 7,24 persen ke level Rp3.110. Emiten dengan kapitalisasi pasar senilai Rp383,61 triliun itu juga menjadi incaran investor asing dengan net buy Rp51,74 miliar

Emiten bank BUKU 4 lainnya yang menguat signifikan yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI). Harga saham perseroan menguat 5,93 persen ke level Rp5.000.

Adapun, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mencatatkan persentase kenaikan harga terbesar 8,10 persen ke level Rp4.540.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio menjelaskan bahwa kemarin empat emiten perbankan big caps itu kompak mengalami penurunan. Namun, kondisi berbalik dengan terjadi reli penguatan hari ini.

“Pergerakan saham lebih banyak tergantung kepada berita dari The Fed yang juga menyebabkan bursa saham Asia ikut mengalami reli,” jelasnya, Selasa (16/6/2020).

Bank Sentral Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk membeli obligasi korporasi secara terpisah lewat program “Secondary Market Corporate Credit Facility”. Sebelumnya, program itu lebih banyak melakukan pembelian produk exchange traded funds (ETF).

Frankie menilai secara fundamental emiten perbankan masih mencatatkan laba pada kuartal I/2020 yang terbilang baik. Selain itu, perseroan masih memiliki permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) yang sehat.

Sebagai catatan, saham empat perbankan kelompok buku 4 itu kompak terkoreksi lebih dari 3 persen pada sesi perdagangan, Senin (15/6/2020). BBCA dan BBRI masih menjadi sasaran aksi jual asing dengan nilai net sell masing-masing Rp116,49 miliar dan Rp110,39 miliar.

Kepala Riset PT Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma menjelaskan bahwa penurunan harga yang terjadi karena kekhawatiran kembali meningkatnya Covid-19 di luar negeri. Sentimen itu menurutnya juga telah menggerus kinerja indeks global.

“Asing mulai net sell kembali beberapa hari ini,” ujarnya saat dihubungi, Senin (15/6/2020).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Hafiyyan
Terkini