Arane Ecoprint, Pakaian Inovasi Anak Muda

Bisnis.com,17 Jun 2020, 15:50 WIB
Penulis: Media Digital
Elsana Bekti Nugroho, pencipta sekaligus pemilik usaha Arane Ecoprint menunjukan salah satu produk ciptaannya.

Bisnis.com, JAKARTA - Istilah keberuntungan berpihak pada yang berani, menjadi ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kehadiran usaha Arane Ecoprint besutan Elsana Bekti Nugroho.

Memulai bisnis karena kesulitan finansial yang dialami semasa kuliah, kini pakaian ecoprint-nya telah menembus pasar ekspor.

Elsana mengatakan bahwa bisnisnya lahir lantaran kondisi kurang beruntung ketika harus membiayai sendiri kuliah arsitek yang dijalaninya. Ketika itu, sang ibu juga harus dirawat di rumah sakit.

Setelah kerja serabutan, mulai dari menjadi asisten dosen, mengerjakan proyek desain grafis dan pekerjaan lainnya, lelaki kelahiran 1994 ini mulai jatuh cinta kepada pakaian dengan gaya ecoprint. 

Ecoprint merupakan teknik memberikan motif pada kain dengan cara dikukus menggunakan dedaunan atau material lainnya. Ketertarikan Elsana kepada ecoprint terjadi lantaran dirinya ingin memiliki batik yang berbeda dari pada umumnya.

Elsana Bekti Nugroho, pencipta sekaligus pemilik usaha Arane Ecoprint.

“Saya tertarik dengan batik, tetapi ingin yang unik. Saya belajar ecoprint dari mentor orang Austria dan Australia pada 2016 dan memantapkan untuk berbisnis pada 2017,” ujarnya kepada Bisnis.

Dalam prosesnya, Elsana melakukan serangkaian uji coba sepanjang 2016 untuk menemukan racikan terbaik pakaian ecoprint. Serangkaian uji coba yang harus dilalui itu pun diakuinya menjadi salah satu periode paling sulit dalam bisnis Arane Ecoprint.

Teknik ecoprint, klaimnya, menghasilkan motif yang berbeda dari batik dan lebih sederhana sekaligus elegan. Perbedaan teknik pembuatan membuat pakaian ecoprint terlihat lebih natural berkat warna yang dihasilkannya berbeda dengan batik pada umumnya.

Teknik ecoprint  juga pakaian memiliki ciri khas dan mudah dikenali jika dijejerkan dengan batik. Hal itu menjadi keuntungan tambahan ketika memasarkan produknya, karena langsung mencuri perhatian calon pembeli.

Lulusan arsitek Universitas Gadjah Mada itu menyebutkan pendidikan sebagai arsitek ikut membantu mangasah naluri desainnya ketika menghadirkan ecoprit. Ilmu arsitek menolongnya untuk menghasilkan karya lewat media kain.

Dia menjelaskan, tidak semua dedaunan bisa digunakan untuk proses pewarna an pakaian ecoprint. Beberapa jenis dedaunan juga hanya bisa menghasilkan warna yang indah pada bulan-bulan tertentu, sehingga konsumen harus menunggu kejutan sesuai dengan musim tanaman.

“Awalnya kami pikir ini kelemahan, tetapi kemudian disadari ini bisa membuat orang menunggu kejutan kami. Daun jati misalnya, bagus bulan ini sehingga tidak akan menemukan warna ini pada bulan selanjutnya,” paparnya.

Perjumpaan dengan PT Bank Negara Indonesia Tbk. atau BNI berawal dari kompetisi yang diikuti Elsana dalam sebuah lomba bagi pengusaha muda dan inspriratif yang diselenggarakan salah satu perusahaan anak BNI, yaitu BNI Syariah. Elsana terpilih menjadi juaranya.

Sukses dalam kompetisi ini membuatnya semakin aktif menjadi salah satu UMKM binaan BNI pada Rumah Kreatif BUMN (RKB) Sleman, dan kerap diundang pameran, termasuk pada Inacraft 2018.

Hadir pada berbagai pameran dan aktif berinovasi telah mampu meningkatkan skala bisnisnya hingga dapat mengirimkan pakaian ecoprint ke luar negeri.

Menurutnya, BNI sangat berjasa karena tidak sekadar memberikan pembiayaan tetapi juga melakukan pelatihan dan membuka akses pasar yang lebih luas.

“Saya berterima kasih kepada BNI karena membuat kami mampu meningkatkan level bisnis. Saya harap lebih banyak UKM lagi yang mendapatkan kesempatan seperti kami,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Media Digital
Terkini