Nilai Investasi Turun karena Saham, Dana Pensiun Tak Ubah Strategi

Bisnis.com,21 Jun 2020, 16:50 WIB
Penulis: Wibi Pangestu Pratama
Dana pensiun/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Penurunan nilai saham dinilai menjadi salah satu penyebab turunnya jumlah investasi dana pensiun. Industri tersebut tidak melakukan perubahan strategi investasi meskipun pandemi virus corona mempengaruhi kondisi perekonomian.

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total investasi industri dana pensiun (dapen) pada April 2020 tercatat senilai Rp272,4 triliun. Jumlah tersebut menurun 3,6 persen (year-to-date) dibandingkan dengan Desember 2019 senilai Rp282,6 triliun, meskipun secara tahunan tercatat naik 1,59 persen (year-on-year/yoy) dari April 2019 senilai Rp268,18 triliun.

Sejumlah instrumen mencatatkan penurunan jumlah investasi, seperti saham, reksa dana, surat berharga negara (SBN), dan obligasi. OJK mencatat bahwa total investasi saham senilai Rp21,3 triliun pada April 2020 turun hingga 30,2 persen (ytd) dari Rp30,5 triliun pada Desember 2019.

Penurunan nilai investasi industri dapen sepanjang tahun berjalan tercatat mencapai Rp10,17 triliun. Jumlah tersebut hampir setara dengan penurunan nilai investasi sahamnya hingga April 2020, yakni Rp9,2 triliun.

Total investasi industri dapen di instrumen reksa dana pada April 2020 tercatat senilai Rp13,8 triliun, turun 8,9 persen (ytd) dari posisi Desember 2019 senilai Rp15,16 triliun. Investasi SBN pada April 2020 senilai Rp65,8 triliun pun tercatat menurun 2,3 persen (ytd) dibandingkan dengan Desember 2019 senilai Rp67,4 triliun.

Adapun, deposito tercatat sebagai salah satu instrumen investasi yang mengalami pertumbuhan nilai. Pada April 2020, total investasi dapen di instrumen tersebut tercatat senilai Rp83,5 triliun atau tumbuh 3,4 persen (ytd) dari Desember 2019 senilai Rp80,7 triliun.

Direktur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Bambang Sri Muljadi menjelaskan bahwa penurunan kinerja pasar modal turut memengaruhi nilai investasi dari industri. Meskipun begitu, hal tersebut tidak membuat industri mengubah strategi bisnis dan investasi dalam jangka waktu pendek.

Menurutnya, dapen merupakan industri yang konservatif dalam segi pengelolaan aset. Bambang pun menjelaskan bahwa meskipun terdapat pandemi Covid-19 yang menekan kinerja saham, industri dapen tidak melakukan perubahan strategi yang signifikan.

"Dana pensiun jauh-jauh hari telah membuat strategi alokasi aset untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, sesuai kebutuhan likuiditas masing-masing dana pensiun," ujar Bambang kepada Bisnis, Minggu (21/6/2020).

Dia memastikan bahwa industri dana pensiun memiliki likuiditas yang aman untuk dua tahun ke depan karena sudah terdapat strategi alokasi aset. Hal itu pun membuat industri tidak mengubah strategi bisnis secara signifikan di tengah pandemi.

Meskipun begitu, menurut Bambang, para pengelola dapen tetap melakukan pengelolaan aset investasi agar imbal hasil bagi peserta bisa optimal. Di tengah penurunan kinerja saham, pengelola dapen akan tetap melakukan perubahan portofolio meskipun tidak akan sesignifikan strategi lembaga jasa keuangan lainnya.

"Apabila investasi di instrumen high risk, saat pasar kontraksi pasti akan segera di-switch apabila masih memungkinkan. Khusus reksadana dan saham saat ini menurunnya disebabkan karena nilai pasar saham dan nilai aktiva bersih [NAB] reksadana juga turun, obligasi juga penurunannya tidak sebesar saham dan reksa dana," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini