Penerbitan Obligasi Institusi Keuangan Terendah dalam 5 Tahun, Kenapa Ya?

Bisnis.com,10 Jul 2020, 14:15 WIB
Penulis: Dhiany Nadya Utami
Karyawati menunjukan uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Kendati intitusi keuangan masih menjadi sektor yang paling banyak menerbitkan obligasi korporasi, secara akumulasi jumlahnya kian menyusut pada paruh pertama tahun ini.

Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) per 30 Juni 2020, jumlah penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp30,03 triliun.

Dari jumlah tersebut, obligasi yang diterbitkan oleh institusi keuangan sepanjang semester I/2020 hanya mencapai Rp12,92 triliun atau 43 persen dari total penerbitan yang ada, sedangkan sisanya 57 persen atau Rp17,11 triliun diterbitkan institusi non keuangan.

Hal ini merupakan yang pertama kalinya terjadi karena biasanya penerbitan surat utang oleh institusi keuangan selalu mendominasi. Jika merujuk pada data Pefindo selama lima tahun ke belakang, penerbitan obligasi oleh institusi keuangan selalu di atas 50 persen setiap tahunnya.

Sebagai contoh, sepanjang 2019 lalu obligasi korporasi oleh institusi keuangan menyentuh 62,4 persen. Begitu pula tahun-tahun sebelumnya, tahun 2018 sebanyak 57,5 persen, tahun 2017 di sekitar 56,0 persen, tahun 2016 mencapai 75,8 persen, dan tahun 2015 di kisaran 70,2 persen.

Direktur Utama Pefindo Salyadi Saputra mengatakan hal tersebut merupakan buntut dari pandemi Covid-19 yang memukul banyak sektor, tak terkecuali sektor keuangan seperti perbankan, multifinance, dan lembaga keuangan khusus.

Dia mencontohkan untuk lembaga multifinance yang salah satu bisnis utamanya melakukan pembiayaan untuk pembelian kendaraan seperti motor atau mobil. Sementara di masa pandemi penjualan kendaraan anjlok.

“Jadi tidak heran ini direfleksikan kepada kebutuhan funding mereka, sehingga penerbitan obligasi untuk semester satu ini juga turun,” ujarnya dalam paparan Perkembangan Surat Utang Korporasi di Indonesia, Jumat (10/7/2020).

Sementara untuk perbankan, Salyadi menilai saat ini bank-bank tengah sangat selektif dalam memberikan kredit sehingga kebutuhan likuiditas mereka juga tak terlalu tinggi, yang akhirnya turut berdampak pada penurunan kebutuhan untuk menerbitkan obligasi.

Di sisi lain, tingkat suku bunga yang sebelumnya masih cukup tinggi juga membuat banyak investor masih cenderung wait and see. Dengan demikian, secara keseluruhan realisasi penerbitan obligasi lebih banyak dari sektor non keuangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Hafiyyan
Terkini