Bank BCA (BBCA) Akhirnya Putuskan Rancangan Akusisi Rabobank

Bisnis.com,30 Jul 2020, 16:37 WIB
Penulis: Ni Putu Eka Wiratmini
Pekerja membersihkan dinding kantor Bank Central Asia (BCA) di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (16/6/2020). Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menyetujui rancangan akuisisi atas saham PT Bank Rabobank International Indonesia (Rabobank) pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar Kamis (30/7/2020).

Dikutip dari keterangan resmi, RUPSLB memutuskan BBCA dan entitas anak PT BCA Finance berencana membeli masing-masing 3.719.069 dan 1 lembar saham dari para pemegang saham Rabobank yang mewakili 100% dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor pada Rabobank.

Adapun total nilai rencana akuisisi akan mengacu kepada premium yang bersifat tetap sebesar US$20,5 juta ditambah dengan 1 kali adjusted book value pada saat penyelesaian (closing) yang diperkirakan rampung di September 2020.

Rencana akuisisi Rabobank ini tidak memberikan dampak material pada permodalan Perseroan. Kebutuhan pendanaan untuk rencana akuisisi telah dipersiapkan dari modal sendiri.

Setelah memperoleh persetujuan dari RUPSLB, selanjutnya BCA akan mengajukan permohonan izin-izin terkait rencana akuisisi Rabobank kepada Otoritas Jasa Keuangan. Proses akuisisi diperkirakan akan selesai pada kuartal III/2020.

Sebelumnya, dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, perseroan menyebutkan setelah penyelesaian rencana akuisisi, Rabobank akan memberi nilai tambah kepada BCA dan entitas anak Grup BCA melalui antara lain rencana penggabungan dengan salah satu entitas anak BCA. 

Namun, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja masih enggan menjelaskan lebih detail terkait rencana peleburan bank asal Belanda tersebut. 

Berdasarkan catatan Bisnis, jumlah nasabah Rabobank telah menyusut tajam tahun lalu. Per November 2019 debitur perseroan tersisa 75 dengan saldo pinjaman Rp1,8 triliun, sedangkan deposan tersisa 1.153 nasabah dengan saldo dana pihak ketiga (DPK) Rp197 miliar.

Padahal, pada Desember 2018 debitur perseroan masih 948 pihak dengan kredit Rp10,5 triliun, sedangkan deposan ada 16.019 dan DPK Rp7,8 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan bulanan Desember 2018, perseroan mencatatkan kerugian sebesar Rp543,91 miliar. Satu penyebabnya adalah melonjaknya beban kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) pada kredit sebanyak 260,2% menjadi Rp603,87 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Ropesta Sitorus
Terkini