Pacu Kinerja Semester II/2020, Begini Strategi Mandiri Tunas Finance

Bisnis.com,05 Agt 2020, 23:49 WIB
Penulis: Aziz Rahardyan
Karyawati melayani nasabah di kantor Mandiri Tunas Finance, Jakarta, Rabu (9/8/2017)./JIBI-Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19, perusahaan pembiayaan PT Mandiri Tunas Finance (MTF) membukukan penyaluran pembiayaan sebesar Rp8,84 triliun pada semester I/2020. Realisasi ini turun dari periode yang sama tahun sebelumnya yakni sebesar Rp13,5 triliun.

Direktur Keuangan MTF Armendra menjamin bahwa di tengah ketidakpastian ini, MTF berupaya mempertahankan posisi perusahaan tetap kuat, terutama dari sisi finansial, agar nasabah yang membutuhkan pemulihan ekonomi lewat pembiayaan, bisa terus terakomodasi.

"Kami berupaya dapat membantu pemulihan perekonomian nasional dari sisi penyaluran pembiayaan kendaraan bermotor di masa krisis dengan cara selektif dan hati-hati. Kami yakin masih ada beberapa sektor dan customer yang tetap memerlukan pembiayaan," jelas Armendra dalam keterangannya, Rabu (5/8/2020).

Adapun total piutang pembiayaan yang disalurkan MTF selama periode semester I/2020 mencapai Rp16,22 triliun, turun 4,74% (year-on-year/yoy) sejalan dengan adanya penurunan pembiayaan. Sementara itu, total pendapatan sepanjang Januari-Juni mencapai Rp1,47 triliun, turun 10,40% (yoy) dari sebelumnya Rp1,64 triliun.

Kondisi ini sejalan dengan penurunan pembiayaan dan pelaksanaan restrukturisasi utang nasabah yang sudah mencapai Rp12 triliun berupa penundaan angsuran selama 6 bulan. Namun, di tengah segala penurunan ini, MTF masih sanggup mencatatkan laba operasional sebesar Rp371,78 miliar.

Armendra menjelaskan demi mempertahankan kinerja laba ke depannya, penguatan posisi finansial ini akan dilakukan antara lain lewat peningkatan efisiensi beban biaya perusahaan. "Kami juga tetap memastikan agar likuiditas tetap terjaga baik, di mana keseimbangan antara penerimaan dan pengeluaran masih positif. Sehingga kita masih tetap mampu memenuhi kewajiban finansial kita kepada kreditur atau pihak terkait," tambahnya.

Armendra mengungkap risiko likuiditas perseroan masih dapat dikelola dengan baik adanya dukungan keuangan yang kuat dari induk usaha, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. melalui skema pembiayaan bersama.

Rasio non-performing financing (NPF) gross MTF juga masih terjaga di level 3,71%, di bawah rata-rata NPF dari statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 5,1%.

Sementara itu, terkait pengelolaan permodalan MTF dilaksanakan sesuai ketentuan POJK No. 35/POJK.05/2018 tanggal 27 Desember 2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan. Salah satunya yakni dengan menjaga gearing ratio, yaitu jumlah pinjaman yang dimiliki perseroan dibandingkan modal sendiri dan utang subordinasi dikurangi penyertaan.

"MTF senantiasa menjaga jumlah maksimum gearing ratio lebih kecil dari ketentuan yang ditetapkan melalui analisa alternatif pembiayaan baik melalui pinjaman bank, penerbitan obligasi ataupun optimalisasi dana joint financing. Per akhir Juni 2020, gearing ratio MTF sebesar 5,34 kali, di bawah batas ketentuan maksimal yakni 10 kali," ungkap Armendra.

Beberapa rasio keuangan lain pun tetap berada dalam posisi aman, antara lain rasio permodalan 22,31%, rasio ekuitas terhadap modal disetor 977,31%, dan rasio piutang pembiayaan terhadap total asset 95,34%. Pada akhirnya, dengan semua bekal ini, Armendra optimistis pihaknya bisa bangkit, asalkan Covid-19 tak kembali merebak, serta pemerintah konsisten menjalankan program Pemulihan Ekonomi Nasional.

"Dampak pandemi Covid-19 terasa di triwulan kedua tahun 2020, dimana pembiayaan baru turun signifikan mulai bulan April 2020. Namun kami optimistis di kuartal ketiga perekonomian akan mulai pulih, diawali adanya tren peningkatan new lending MTF antara 13-25% dari Mei hingga Juli 2020," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Ropesta Sitorus
Terkini