BTN Andalkan Momentum New Normal

Bisnis.com,02 Sep 2020, 10:02 WIB
Penulis: Media Digital
Pengunjung mencari informasi mengenai Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Indonesia Properti Expo (Ipex) 2020 di Jakarta, Minggu (16/2/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Selain mengoptimalkan penempatan dana negara yang senilai Rp5 triliun, emiten dengan kode saham BBTN ini juga berupaya menghimpun dana non-konvensional melalui penerbitan obligasi berkelanjutan dengan nilai pokok Rp1,5 triliun.

Direktur Utama Bank BTN Pahala Nugraha Mansury mengatakan perseroan memiliki mesin yang mampu mengakselerasi permintaan kredit perumahan, sekaligus mendukung Program Satu Juta Rumah dari pemerintah.

“Kami akan terus menggali berbagai kemudahan agar makin banyak masyarakat Indonesia dapat memiliki rumah,” katanya belum lama ini.

Pahala mengklaim telah terjadi peningkatan permintaan rumah bersubdisi hingga 75% secara tahunan (year on year/yoy) pada awal semester kedua tahun ini. Bahkan, pada rumah non-subdisi pun ikut terkerek sekitar 30% yoy.

BTN pun tengah mengadakan Indonesia Property Expo 2020 untuk mendorong penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR). Bank BTN memberikan penawaran lain seperti tingkat suku bunga yang rendah, hingga bebas biaya provisi dan diskon asuransi jiwa.

Direktur Finance, Planning, dan Treasury Bank BTN Nixon L.P. Napitupulu menambahkan tren penyaluran kredit pada Juli 2020 sudah meningkat dibandingkan dengan Juni 2020.

“Walaupun masih di bawah situasi pandemi, tren penjualan KPR pada Juni dan Juli sudah membaik, baik jumlah akad maupun jumlah pencairan. Kami tentunya optimistis,” katanya.

Dia menyebutkan perseroan akan tetap berupaya untuk menjaga laba di kisaran Rp1,2 triliun, sambil tetap memupuk pencadangan pada tahun ini. Pencadangan dilakukan demi mengantisipasi peningkatkan permintaan restrukturisasi KPR akibat pandemi.

“Kalau aset kami harapkan bisa tumbuh 4% sampai 5% sedangkan dana masyarakat masih dapat tumbuh baik di 8%,” katanya.

Adapun, BBTN tetap mencatatkan kinerja positif pada semester I/2020. Kredit dan pembiayaan masih tumbuh 0,32% yoy menjadi Rp251,83 triliun, ditopang oleh KPR subsidi.

Sementara itu, lanjut Nixon, permintaan restrukturisasi sudah sangat rendah pada awal kuartal ketiga tahun ini. Tambahan permintaan restrukturisasi pada Juni 2020 hanya Rp9,92 triliun, turun dibandingkan periode puncaknya pada April 2020 yang mencapai Rp12,66 triliun. Hingga 30 Juni 2020, total restrukturisasi mencapai 230.991 debitur dengan nilai mencapai Rp36,46 triliun.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau NPL Bank BTN pun menembus 4,71% (gross) dan 2,4% (nett) pada semester I/2020. NPL ini makin meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 3,32% (gross) dan 2,42% (nett).

Direktur Distribution and Retail Funding Bank BTN Jasmin mengklaim dana pihak ketiga (DPK) masih mampu tumbuh normal pada paruh kedua tahun ini. Rasio dana murah dapat dipertahankan pada 42,4% dan akan ditingkatkan hingga 45%, guna menjaga tingkat margin.

Perseroan juga mendapat keuntungan dari peningkatan transaksi melalui perputaran dana murah tersebut, selain keuntungan penurunan beban bunga dana simpanan berjangka.

“Kami akan push penggunaan mobile banking. Setiap nasabah yang membuka rekening baik tabungan maupun KPR sudah wajib aktivasi mobile banking.”

Bagi nasabah korporasi, perseroan memaksimalkan beberapa program seperti gratis biaya transkasi kliring dan RTGS. BTN juga fokus untuk mengoptimalkan giro kelembagaan seperti instansi pemerintah yang selama ini belum maksimal lewat akuisisi satuan kerja.

Dengan kinerja tersebut, harga saham BBTN mulai kembali naik ke kisaran Rp1.580, membaik dari harga terendah sejak Mei yang sempat menyentuh Rp745. Adapun, price to book value saat ini berada pada 0,96 kali.

MASIH MAMPU

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan berpendapat bank pelat merah khususnya BBTN tergolong mampu mengendalikan sentimen negatif di tengah pandemi tahun ini.

Meski peningkatan konsumsi sekaligus penyaluran KPR masih sangat terbatas, tetapi perseroan masih mampu untuk mempertahankan margin. Hal ini terutama didorong oleh mulai menurunnya beban dana sekaligus meningkatnya transkasi.

“Saya melihat perseroan masih bisa meningkatkan laba di atas Rp1 triliun dan ini menjadi sentimen baik bagi peningkatan kepercayaan investor,” katanya.

Adapun, total transkasi mobile banking BTN pada paruh pertama tahun ini tercatat 34,14 juta, naik 31,56% yoy. Hal ini juga linear dengan nilai transkasi sekaligus jumlah penggunanya. Meski sedikit, tetapi jumlah transkasi, nilai transkasi, sekaligus jumlah pengguna di internet banking BTN juga menunjukkan tren serupa.

Meski demikian, dia mengatakan BBTN masih tetap perlu menjaga kualitas kreditnya, karena konsumsi sekaligus pendapatan masyarakat saat ini terpangkas cukup dalam.

“Mayoritas yang ambil KPR adalah masyarakat berpendapatan tetap, dan biasanya sudah banyak terpangkas. Rasio NPL perlu dijaga, ketika ekspansi pun harus sangat selektif agar tak membuat kualitas kredit lebih buruk,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Media Digital
Terkini