Kisah Mahasiswa ITB Membeli Palu Martil lewat Fintech Cicil

Bisnis.com,11 Sep 2020, 15:55 WIB
Penulis: Wibi Pangestu Pratama
Ilustrasi teknologi finansial/Flickr

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan teknologi finansial PT Cicil Solusi Mitra Teknologi menceritakan salah satu debiturnya, mahasiswa Institut Teknologi Bandung atau ITB yang membeli kebutuhan kuliah berupa palu martil melalui jasa pinjaman online.

CEO & Co-Founder Cicil Edward Widjonarko menjelaskan bahwa perusahaannya yang merupakan fintech peer to peer (P2P) lending menyasar debitur di segmen khusus, yakni mahasiswa dan institusi pendidikan. Cicil pun hanya menyalurkan pembiayaan yang berkaitan dengan pendidikan.

Dia menjelaskan bahwa Cicil memfasilitasi para mahasiswa untuk membeli barang-barang yang diperlukan untuk menunjang studi dengan persyaratan yang dirancang khusus untuk segmen tersebut. Para mahasiswa pun kemudian akan membayar cicilannya kepada perseroan.

Menurut Edward, sebagian besar barang yang dibeli para mahasiswa melalui pinjaman di Cicil berupa laptop, gawai atau ponsel pintar, hardisk, dan peralatan lainnya. Namun, salah satu debitur asal ITB membeli barang yang tidak lazim, yakni palu martil.

"Ada mahasiswa ITB mengajukan pembiayaan untuk membeli martil. Kami sempat heran dengan ini, setelah kami verifikasi ternyata dia adalah mahasiswa [jurusan] Teknik Geodesi dan martil itu kebutuhannya untuk kuliah mereka, laboratorium mereka," ujar Edward pada Jumat (11/9/2020).

Selain pembelian barang untuk keperluan perkuliahan, menurut Edward, Cicil pun memiliki produk pembiayaan pulsa dan kuota internet, serta pembiayaan uang kuliah. Pembiayaan tersebut hanya bisa diperoleh para mahasiswa untuk keperluan studi, jika di luar keperluan tersebut maka tidak akan diverifikasi oleh pihak perseroan.

"Seperti ada yang mengajukan [pembiayaan] untuk membeli vape, itu tidak kami terima karena tidak berkaitan dengan studi," ujarnya.

Dalam empat tahun perjalan perusahaan, Cicil telah menyalurkan lebih dari 67.000 pembiayaan kepada para mahasiswa dengan akumulasi mencapai Rp171 miliar. Perseroan telah menjangkau mahasiswa di 257 institusi pendidikan dari Sumatera hingga Sulawesi.

Saat ini perseroan mencatatkan tingkat keberhasilan pinjaman 90 (TKB90) 97,46 persen. Menurut Edward, angka TKB90 itu menurun atau tingkat non performing financing (NPF) meningkat selama masa pandemi Covid-19, dari yang sebelumnya berada di bawah 1 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Ropesta Sitorus
Terkini