Permintaan Kredit Lesu, Ini Sektor yang Masih Berpotensi Tumbuh

Bisnis.com,26 Sep 2020, 08:33 WIB
Penulis: M. Richard
Ilustrasi Bank/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Meskipun kinerja penyaluran kredit perbankan pada pertengahan kuartal ketiga masih tampak berat, para bankir memandang masih ada sejumlah sektor yang berpeluang untuk mengalami pertumbuhan, kendati tidak signifikan. 

Berdasarkan bahan paparan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan kredit per Agustus tahun ini hanya 1,04%, bahkan lebih lambat dari bulan sebelumnya yang hanya 1,53%. Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga masih cukup kuat bahkan mencapai 11,64%, sehingga membuat rasio loan to deposit rasio turun lebih rendah lagi ke 85,11%.

Pengurus Pusat Perbanas sekaligus Direktur PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Sis Apik Wijayanto tahun ini perbankan masih memiliki peluang untuk tumbuh secara konservatif pada beberapa sektor seperti telekomunikasi, makanan dan minuman, dan kesehatan.

"Dengan adanya relaksasi restrukturisasi kredit, dan bahkan akan diperpanjang lagi, maka akan sangat membantu debitur-debitur yang masih memiliki potensi bertahan untuk dapat terus menyerap kredit perbankan," jelasnya dalam webinar yang digelar Perbanas, Jumat (25/9/2020).

Sis Apik mengatakan efisiensi operasional juga menjadi strategi utama perbankan pada masa pandemi tahun ini. Hal ini sangat terbantu dengan adanya layanan digital banking dan bahkan dapat sedikit mendongkrak pendapatan fee pelaku intermediator.

"Pengembangan digital ecosystem juga ditujukan untuk menangkap perubahan tren perilaku masyarakat yang semakin aktif di digital ecosysem," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Perbanas sekaligus Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Pahala N Mansyuri mengatakan potensi perlambatan pertumbuhan dan penurunan kualitas kredit, serta peningkatan restrukturisasi kredit adalah hal yang tak terelakkan bagi perbankan.

Hanya saja, Pahala lebih mengkhawatirkan kemampuan pelaku UMKM dalam mengahadapi resesi tahun ini.

"Ketahanan UMKM memang masih harus dilihat. Apakah mereka masih mampu kembali bangkit. Berapa yang bisa bertahan, dan berapa yang tidak bisa bangkit lagi," katanya.

Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Perbanas Aviliani menyebutkan daya tahan pelaku indsutri perbankan sangat tergantung pada pelaku usaha dalam negeri.

Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat selaku nasabah, dan debitur dari perbankan tetap dapat menjaga konsumsinya khususnya untuk produk yang dihasilkan oleh pelaku usaha dalam negeri.

"Saat ini permasalahannya di demand side. Maka kita sebagai masayakat juga perlu untuk belanja produk dalam negeri," sebutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Ropesta Sitorus
Terkini