Demo Tolak Omnibus Law Berlanjut, Rupiah Ditutup Stagnan

Bisnis.com,08 Okt 2020, 15:28 WIB
Penulis: M. Nurhadi Pratomo dan Rivki Maulana
Karyawati menunjukan uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan pada perdagangan hari ini, Kamis (8/10/2020) di tengah demonstrasi yang marak menolak omnibus law Undang-undang Cipta Kerja. 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp14.710 atau sama dengan posisi penutupan kemarin. Rupiah dibuka di level Rp14.699 dan bergerak di rentang 14.697 hingga Rp14.729 sepanjang perdagangan hari ini.

Sementara itu, nilai tukar rupiah menyentuh Rp14.750, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor yang dirilis Bank Indonesia. Kurs tersebut menguat 34 poin dibandingkan posisi kemarin.

Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS. Adapun indeks dolar yang mengukur kekuatan mata uang Negeri Paman Sam turun 0,03 persen menjadi 93,6060. 

Penguatan mata uang Asia dipimpin oleh won Korea sebesar 0,45 persen, disusul yuan China yang juga menguat 0,37 persen. Selain rupiah, dolar Taiwan juga melawan arus kinerja mata uang Asia dengan melemah 0,23 persen.

Berbeda dengan pasar valuta asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat empat hari beruntun. Indeks menguat 0,7 persen atau 34,81 poin ke level 5.039,142.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan ada beberapa faktor pendongkrak laju IHSG. Salah satunya dampak dari pengesahan Rancangan Undang Undang Cipta Kerja menjadi Undang Undang (UU) awal pekan ini.

“Euforia pengesahan RUU omnibus law menjadi UU masih kuat,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (8/10/2020).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Rivki Maulana
Terkini