Dana di Surat Berharga Melesat Rp290 Triliun, Bankir Buka Suara

Bisnis.com,01 Nov 2020, 17:44 WIB
Penulis: M. Richard
Karyawan merapikan uang di cash center Bank BNI, Jakarta, Selasa (11/2/2020). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah permintaan kredit yang lesu akibat pandemi Covid-19, penempatan dana perbankan di surat berharga naik cukup besar.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penempatan bank umum pada surat berharga per Agustus 2020 tercatat Rp1.344,75 triliun, naik Rp290,57 triliun dari periode sama tahun lalu Rp1.054,18 triliun.

Bank-bank pun menjelaskan kondisi masing-masing terkait dengan kenaikan dana di surat berharga, selain disalurkan ke kredit.

Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Rully Setiawan mengatakan perseroan melakukan penempatan pada instrumen surat berharga dengan memperhatikan perkembangan return yang ditawarkan pasar dan risk appetite bank.

"Di samping surat berharga negara, Bank Mandiri juga melakukan penempatan dalam obligasi korporasi yang memiliki rating investment grade," katanya Minggu (1/11/2020).

Rully mengklaim penempatan surat berharga saat ini juga masih mempertimbangkan permintaan kredit dari industri riil. Jika ekonomi mulai membaik dan mendorong permintaan kredit, perseroan pun tetap akan memilih penempatan dengan return yang lebih baik yakni kredit.

Adapun, penempatan surat berharga emiten berkode BMRI pada kuartal ketiga tahun ini tercatat Rp220,42 triliun naik dari awal tahun ini Rp195,63 triliun.

Direktur Finance, Planning, dan Treasury Bank BTN Nixon L. P. Napitupulu pun tak menampik penempatan surat berharga perseroan juga masih meningkat meski adanya penempatan dana pemerintah.

Surat berharga yang dimiliki perseroan per September tahun ini tercatat Rp42,27 triliun, naik dari akhir tahun lalu Rp17,55 triliun.

Karyawan menghitung uang pecahan Rp.100.000 di salah satu Bank yang ada di Jakarta, Senin (4/6). Bisnis/Abdullah Azzam

Dia menyampaikan penyaluran kredit tentu menjadi pertimbangan utama semua bank. Hanya saja, dia meyampaikan permintaan kredit dari pelaku industri riil masih belum begitu baik, yang secara tidak langsung mempengaruhi permintaan KPR.

Nixon pun memastikan perseroan akan tetap mencari celah penyaluran kredit berkualitas pada masa pandemi tahun ini. Terlebih, permintaan kredit bersih per akhir kuartal ketiga tahun ini mulai meningkat seperti awal tahun.

"Di BTN booking bulan September sudah sama dengan Maret. Artinya, sudah sama dengan sebelum pandemi Covid-19 di Indonesia. Semoga saja ke depan lebih tumbuh lagi. Butuh kesabaran dikit untuk mengalihkannya dari surat berharga," ucapnya.

Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication PT Bank Central Asia Tbk. BCA Hera F. Haryn menyampaikan perseroan mencermati bahwa penempatan dana pada instrumen surat berharga dibutuhkan sebagai strategi pengelolaan likuiditas untuk menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat.

Perseroan pun melakukan penempatan dana pada instrumen paling aman yakni surat utang pemerintah. Hingga kuartal III/2020, BCA mencatat dana yang diletakkan dalam surat berharga mencapai Rp191,5 triliun tumbuh 24,6 persen secara tahunan.

"Akan tetapi, BCA terus berkomitmen untuk berkontribusi dalam menggerakkan roda perekonomian nasional dengan terus mencari ceruk penyaluran kredit berkualitas," sebutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini