Meski Resesi, Bos OJK Yakin Kredit Bank Positif Tahun Ini

Bisnis.com,09 Nov 2020, 16:59 WIB
Penulis: Hendri Tri Widi Asworo
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat menyampaikan sambutan peresmian kantor baru OJK NTB di Mataram, Senin (9/11/2020). /Bisnis-Hendri T. Asworo

Bisnis.com, MATARAM – Kendati ekonomi nasional dibayangi oleh resesi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis penyaluran kredit perbankan pada tahun ini mampu tumbuh positif.

Hingga September 2020 kredit hanya tumbuh 0,12 persen secara tahunan (yoy) atau hampir stagnan. Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan Agustus 2020 yang tumbuh 1,04 persen yoy.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan saat ini kredit perbankan mulai mengeliat kembali setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan, karena pembayaran angsuran lebih besar daripada pertumbuhan kredit.

“Ekonomi mulai bergerak. Kan bisa terlihat dari kuartal II ekonomi minus 5,32 persen menjadi menyempit minus 3,49 persen pada kuartal III. Jadi ada pergerakan ekonomi. Mulai Oktober itu kredit mulai menggeliat lagi,” kata Wimboh di sela-sela peresmian kantor OJK NTB di Mataram, Senin (9/11/2020).

Oleh sebab itu, dia optimistis penyaluran kredit pada tahun ini masih bisa positif dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 2-3 persen. Hal itu dengan melihat performa menjelang akhir tahun ini, penyaluran kredit perbankan mulai bergerak.

Berdasarkan data OJK per September 2020 kredit perbankan tercatat sebesar 0,12 persen apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp5.531 triliun. Tren penurunan kredit berlanjut dari posisi Agustus 2020 naik 1,04 persen.

Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga tercatat naik 12,88 persen menjadi Rp6.651 triliun. Pesatnya pertumbuhan dana dibandingkan dengan kredit membuat rasio loan to deposit ratio (LDR) menyusut menjadi 83,16 persen dari bulan sebelumnya 85,11 persen.

Kenaikan likuiditas perbankan membuka ruang penyaluran kredit terbuka lebar. Wimboh memproyeksikan sampai akhir tahun rasio LDR bisa kembali meningkat hingga ke level 85 persen.

Menurutnya, beberapa sektor usaha yang bisa menjadi penopang kredit perbankan seperti pertanian, peternakan hingga perikanan. Adapun sektor yang masih berat untuk menyedot kredit seperti pariwisata, restoran, dan transportasi.

“Ruang di sektor pertanian masih terbuka lebar. Karena sektor ini tetap dibutuhkan meskipun ada pandemi,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini