Naik Kelas, Bank Cilik Pacu Layanan Digital

Bisnis.com,10 Nov 2020, 17:41 WIB
Penulis: Azizah Nur Alfi
Ilustrasi Bank/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah bank cilik berlomba meningkatkan layanan digital pada tahun depan guna memenuhi kebutuhan nasabah.

Misalnya, PT Bank Neo Commerce Tbk., sebelumnya bernama PT Bank Yudha Bhakti Tbk., memacu layanan digital setelah resmi naik kelas BUKU 2 pada September kemarin.

Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan mengatakan setelah naik kelas BUKU 2, perseroan dapat melakukan usaha bank yang lebih luas. Dalam hal ini, bank akan bertransformasi menjadi bank digital sesuai dengan visi perseroan.

"Jadi, bicara mengenai pengembangan bisnis dan layanan Neo Commerce dalam hal ini, kami akan masuk untuk mengembangkan mobile banking dan internet banking," katanya dalam dialog Money Talks Power Lunch, Selasa (10/11/2020).

Dia mengatakan kedua layanan tersebut memang menjadi produk yang lazim bagi beberapa bank. Namun, perseroan akan mengejar peluncuran layanan tersebut pada kuartal I tahun depan.

Segala fitur layanan mulai dari pembayaran QR hingga pembukaan rekening akan tersedia di aplikasi tersebut. Hal itu untuk memudahkan pelayanan kepada nasabah perseroan, terutama segmen milenial sebagai segmen baru yang sedang disasar.

Peningkatan layanan digital merupakan bagian dari proses perseroan untuk menuju visi menjadi bank digital terdepan di Indonesia. "Untuk mendukung proses tersebut, kami juga bekerja sama dengan dua raksasa teknologi besar yakni Huawei dan Sunline. Huawei membantu kami dalam infrastruktur, dan Sunline membantu kami dari sisi sistem," imbuhnya.

Lebih lanjut, emiten bersandi saham BBYB ini telah memiliki rencana untuk peningkatan modal sampai dengan 2022. Peningkatan modal tersebut untuk memenuhi ketentuan modal inti Rp2 triliun pada 2021 dan Rp3 triliun pada 2022, sesuai dengan POJK 12/2020. Adapun, modal inti perseroan per 30 September 2020 sebesar Rp1,07 triliun.

Senada, PT Bank Bisnis Internasional Tbk. akan mengejar layanan digital pada tahun depan. Adapun, fokus perseroan pada tahun ini yakni meningkatkan permodalan guna memenuhi ketentuan modal inti minimum sesuai dengan POJK 12/2020.

"Rencananya setelah kami memenuhi modal minimal Rp1 triliun, artinya kami sudah masuk dalam BUKU 2 dan kegiatan untuk pengembangan layanan digital boleh dilakukan," terang Sekretaris Perusahaan Bank Bisnis Paulus Wijaya, dikutip Senin (10/11/2020).

Paulus menyebutkan setelah IPO pada 7 September 2020, modal inti Bank Bisnis lebih dari Rp700 miliar. Dengan demikian, perseroan membutuhkan tambahan sedikitnya Rp300 miliar untuk memenuhi aturan itu.

Saat ini emiten bersandi saham BBSI ini tengah persiapan untuk melaksanakan rights issue. Aksi korporasi ini ditargetkan dapat dilakukan pada Desember 2020.

Komitmen meningkatkan layanan digital ditunjukkan dengan alokasi belanja modal untuk digital sebesar Rp18 miliar pada tahun depan. Perseroan juga tengah menjajaki sejumlah vendor untuk rencana tersebut.

"Saat ini kami tengah menjajaki beberapa vendor. Tapi detailnya belum bisa disampaikan," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini