Konten Premium

Saat China Pangkas Pertumbuhan Fintech, Bagaimana dengan Indonesia?

Bisnis.com,12 Nov 2020, 19:50 WIB
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Petugas Bank Indonesia (BI) Tegal mempraktikkan cara melakukan pembayaran melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik dan mobile banking saat peluncuran dan implementasi QR Code Indonesian Standard (QRIS) untuk desa wisata di Pasar Slumpring, Desa Cempaka, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Minggu (16/2/2019)./ANTARA FOTO-Oky Lukmansyah

Bisnis.com, JAKARTA — Penawaran umum saham perdana bernilai jumbo Ant Group boleh saja tertunda. Namun, ibarat sekelebat petir pada malam hari, rencana ekspansi perusahaan itu saja sudah lebih dari cukup untuk menyadarkan Pemerintah China betapa mereka belum sepenuhnya siap mengantisipasi potensi besar perusahaan financial technology (fintech).

Dengan nominal dana segar yang diincar senilai US$34,5 miliar dari Initial Public Offering (IPO) itu, anak usaha Alibaba tersebut tidak saja akan memecahkan rekor dunia. Tapi, juga meningkatkan kapitalisasi pasar hingga US$300 miliar alias setara dengan bank terbesar AS, JP Morgan.

“Ant adalah konsep yang sepenuhnya baru dalam hal perbankan, dan hampir pasti mampu menggantikan atau bahkan mengancam sistem yang ada di China. Dan ironisnya mereka [Pemerintah China] baru benar-benar menyadari hal itu,” kata pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio kepada Business Insider, Rabu (11/11/2020).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

  Konten Premium

Anda sedang membaca Konten Premium

Silakan daftar GRATIS atau LOGIN untuk melanjutkan membaca artikel ini.

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Margrit
Terkini