Bos OJK dan Chatib Basri Dukung Bunga Acuan Turun. Ini Sinyal BI

Bisnis.com,16 Nov 2020, 09:09 WIB
Penulis: Maria Elena
Karyawan melintas didekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (30/12/2019). Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) tercatat telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak empat kali selama masa pandemi Covid-19 berlangsung.

Terakhir kali, penurunan suku bunga acuan dilakukan BI pada Juli 2020 menjadi 4 persen. Pada periode berikutnya hingga Oktober 2020, BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuan dengan pertimbangan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Kebijakakan moneter BI tersebut pun mendapat respon dari Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso hingga Mantan Menteri Keuangan di era SBY, Chatib Basri.

Menurut Wimboh, penurunan suku bunga acuan masih terbuka karena kondisi likuiditas perbankan saat ini cukup melimpah. Penurunan bunga acuan akan mendorong perbankan mengurangi beban bunga dana sehingga memangkas bunga kredit.

"Saat ini ruang penurunan suku bunga acuan terbuka. Bisa diturunkan lagi, likuiditas perbankan juga cukup likuid," kata Wimboh beberapa saat lalu.

Wimboh menilai, kebijakan untuk menahan penurunan suku bunga justru akan membebani pelaku usaha dan berdampak negatif pada perbankan apabila gagal bayar.

Dia berkaca pada saat krisis 1998, di mana suku bunga dinaikkan ketika krisis keuangan terjadi. "Resep yang salah ketika 1998 dengan menaikkan suku bunga. Akibatnya ekonomi malah tertekan dan membuat debitur gagal bayar," jelasnya.

Senada, Chatib Basri menilai BI sebenarnya masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan karena tingkat inflasi selama ini tercatat berada pada kisaran yang rendah.

"BI menurut saya punya ruang menurunkan bunga lebih jauh karena inflasi rendah, tapi BI kelihatannya enggan karena takut nilai tukar rupiah kena," katanya.

Menurut Chatib, BI mengkhawatirkan penurunan suku bunga lebih lanjut akan berdampak pada nilai tukar rupiah yang akan menyebabkan arus modal asing keluar.

Namun, dia memperkirakan nilai tukar rupiah ke depan akan tetap berada pada kisaran yang stabil, 14.000 hingga 15.000, dengan titik tengah di 14.500.

Hal ini dikarenakan The Fed masih akan terus menerapkan kebijakan suku bunga yang rendah, bahkan hingga 3 tahun ke depan. Hal ini pun diikuti dengan negara lainnya, termasuk dengan menerapkan kebijakan quantitative easing.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo hanya memberikan sinyal bahwa ruang penurunan suku bunga acuan masih terbuka.

Penurunan ini kata Perry akan mempertimbangkan perkembangan ekonomi, baik global maupun domestik.

"Ke depan ada ruang untuk penurunan suku bunga, tentu saja kami akan pantau perkembangan ekonomi global dan domestik, untuk kami putuskan di rapat dewan gubernur," katanya dalam rapat kerja bersama dengan DPR RI Komisi XI, pada Kamis (12/11/2020).

Sebagai informasi, BI akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur bulan ini pada 19 November 2020. Jika ruang itu ada, maka BI akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir tahun ini. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Hadijah Alaydrus
Terkini