​OPEC+ Belum Sepakat Kuota Produksi, Harga Minyak Dunia Terkoreksi

Bisnis.com,30 Nov 2020, 08:46 WIB
Penulis: Lorenzo Anugrah Mahardhika
Tanker pengangkut minyak./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia terkoreksi dan menuju level US$45 per barel seiring belum tercapainya kesepakatan antara negara-negara anggota OPEC+ dalam penundaan kenaikan produksi minyak pada Januari 2200 mendatang.

Dilansir dari Bloomberg pada Senin (30/11/2020), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan Januari 2021 terpantau turun 33 sen  di level US$45,20 per barel pada New York Mercantile Exchange hingga pukul 08.45 waktu Singapura.

Selain itu, harga minyak Brent untuk kontrak bulan Januari 2021 terkoreksi 1 persen dan berada di kisaran US$47,71 per barel setelah ditutup menguat 0,8 persen pada sesi perdagangan Jumat pekan lalu.

Harga minyak dunia terkoreksi 0,7 persen pada perdagangan pagi ini di bursa Asia. Hal tersebut terjadi seiring dengan diskusi yang tengah diadakan OPEC+ terkait penundaan kenaikan produksi minyak dunia.

Mayoritas negara anggota OPEC+ diyakini mendukung rencana untuk tidak menaikkan produksi minyak harian hingga kuartal I/2021 mendatang. Kendati demikian, penolakan muncul dari Uni Emirat Arab dan Kazakhstan.

Harga minyak dunia mencatatkan kenaikan bulanan tertinggi sejak Mei lalu seiring dengan kabar kejelasan vaksin virus corona yang meningkatkan prospek konsumsi minyak dalam jangka panjang. Meski demikian, hal tersebut juga berarti para produsen akan kembali memulai produksi minyak sebesar 1,9 juta barel yang sempat tertunda yang dapat memicu kenaikan persediaan.

Adapun prospek permintaan minyak dunia tetap tidak merata seiring dengan pemulihan ekonomi yang belum terjadi di seluruh dunia. China tetap menjadi motor utama permintaan minyak dunia dengan salah satu pemasok bahan bakar pesawat menyiapkan lonjakan konsumsi jelang tahun baru imlek Februari 2021 mendatang.

Sementara itu, bandara di Amerika Serikat mencatatkan kenaikan lalu lintas penumpang pada masa libur Thanksgiving. Catatan ini merupakan yang tertinggi sejak Maret lalu, meski secara year on year masih turun 1,5 juta penumpang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Rivki Maulana
Terkini