ADB Koreksi Kontraksi Ekonomi Asia, China dan India Jadi Acuan

Bisnis.com,10 Des 2020, 10:33 WIB
Penulis: Reni Lestari
Karyawan memotret logo Asian Development Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (8/4/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Pembangunan Asia atau ADB mengungkapkan kontraksi di ekonomi negara berkembang Asia akan berada di bawah perkiraan seiring pemulihan dari pandemi virus Corona.

Produk domestik bruto kawasan itu akan menyusut 0,4 persen tahun ini, dibandingkan dengan proyeksi September sebesar -0,7 persen. ADB mempertahankan proyeksi pertumbuhan kawasan pada 6,8 persen untuk 2021.

Masing-masing bagian di kawasan memiliki prospek yang berbeda-beda. Asia Timur akan tumbuh tahun ini sementara subkawasan lain akan menyusut.

Perkiraan ekonomi China untuk 2020 dinaikkan menjadi pertumbuhan 2,1 persen dari proyeksi 1,8 persen pada September. Sementara itu, proyeksi India naik menjadi kontraksi 8 persen dari perkiraan sebelumnya -9 persen. Tahun depan, PDB China diproyeksi tumbuh 7,7 persen dan India sebesar 8 persen.

Perkiraan ekonomi Asia Tenggara diturunkan menjadi kontraksi 4,4 persen tahun ini di tengah penurunan proyeksi untuk Indonesia, Malaysia dan Filipina. Subkawasan itu tetap di bawah tekanan karena wabah virus dan tindakan penahanan terus berlanjut.

"Pandemi berkepanjangan tetap menjadi risiko utama,” kata Yasuyuki Sawada, kepala ekonom ADB, dilansir Bloomberg, Kamis (10/12/2020).

Dia melanjutkan, pengiriman vaksin yang aman, efektif, dan tepat waktu di negara berkembang akan menjadi penting untuk mendukung pembukaan kembali ekonomi dan pemulihan pertumbuhan di kawasan.

Sementara itu, Asia Timur akan melihat pertumbuhan ekonomi 1,6 persen tahun ini, naik dari 1,3 persen yang diperkirakan sebelumnya, di tengah pemulihan di China dan Taiwan.

Sementara lockdown dan pembatasan pergerakan telah berkurang, pemulihan pariwisata kemungkinan akan tertunda. Inflasi di negara berkembang Asia sekarang diproyeksikan pada 2,8 persen tahun ini, turun dari perkiraan 2,9 persen pada September, karena permintaan yang tertekan dan harga minyak yang rendah. Harga konsumen terlihat naik 1,9 persen tahun depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Hadijah Alaydrus
Terkini