Besok Pengumuman Suku Bunga Acuan. BI Bakal Tahan di Level 3,75 Persen?

Bisnis.com,20 Jan 2021, 14:49 WIB
Penulis: Maria Elena
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (18/8/2020), Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI-7 Day Reverse Repo Rate akan dipertahankan pada level 3,75 persen pada bulan ini.

Sebagai informasi, BI akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Kamis (21/1/2021).

Josua mengatakan, kebijakan BI tersebut dilakukan karena mempertibangkan suku bunga kebijakan saat ini masih konsisten untuk menjangkar ekspektasi inflasi, serta untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Inflasi awal 2021 ini cenderung meningkat mempertimbangkan potensi kenaikan inflasi harga diatur pemerintah dan inflasi harga bergejolak," katanya kepada Bisnis, Selasa (19/1/2021).

Josua menjelaskan, volatilitas rupiah yang terindikasi dari rata-rata one-month implied volatility sempat meningkat menjadi 9,7 persen sepanjang Januari 2021, dari bulan Desember 2020 yang tercatat di kisaran 8,4 persen.

Namun, nilai tukar rupiah masih cenderung menguat sejak awal 2021 ini yang ditopang oleh aliran modal asing sebesar US$838,5 juta di pasar saham dan pasar surat berharga negara (SBN).

Sementara dari sisi sektor riil perekonomian, berbagai survei terkini BI, seperti Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), PrompManufacturing Index BI, dan Survei Perbankan, menunjukkan kondisi perekonomian pada kuartal I/2021 terus membaik.

Menurut Josua, hal ini juga tentunya dipengaruhi oleh perkembangan program vaksinasi pada awal 2021 ini.

Selain itu, dia mengatakan transmisi penurunan suku bunga perbankan masih terus berlanjut merespon penurunan suku bunga acuan BI yang mencapai 125 basis poin pada 2020 lalu.

“Sehingga tren penurunan suku bunga perbankan dan perbaikan aktivitas perekonomian diharapkan akan mulai mendorong permintaan kredit yang cenderung masih lemah pada hingga akhir tahun 2020,” katanya.

Dia pun memandang ruang penurunan suku bunga perbankan masih terbuka meski semakin terbatas. Hal ini sebagai upaya untuk menjaga daya tarik investasi pada aset keuangan dalam rangka mendorong terciptanya stabilitas nilai tukar rupiah di tengah proses pemulihan ekonomi domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Ropesta Sitorus
Terkini