Ntaps! Holding Ultra Mikro, Bunga PNM & Pegadaian Bisa Turun sampai 3 Persen

Bisnis.com,03 Feb 2021, 09:46 WIB
Penulis: Azizah Nur Alfi
Pekerja menjemur kerupuk mie kuning di rumah industri kerupuk Desa Harjosari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Minggu (16/12/2018). Pemerintah menargetkan subsidi kredit usaha rakyat (KUR) dalam RAPBN 2019 mencapai Rp 12,2 triliun./ANTARA-Oky Lukmansyah

Bisnis.com, JAKARTA - Rencana pembentukan holding ultra mikro disebut dapat membuat bunga pinjaman PT Permodalan Nasional Madani (Persero) dan PT Pegadaian (Persero) lebih rendah.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Sunarso mengatakan suku bunga pinjaman bisa diturunkan dengan dua cara.

Pertama, PNM dan Pegadaian mendapatkan kelebihan likuiditas dari BRI. Rata-rata setiap hari BRI memiliki secondary reserve Rp150 triliun yang ditempatkan di money market dengan yield 3 persen.

"Sedangkan Pegadaian dan PNM, itu sumber pendanaan dari loan instrument masih di atas 5 persen. Jadi, kalau bisa mendapatkan pendanaan dari BRI secara langsung," katanya dalam rapat bersama Komisi XI DPR, dikutip Rabu (3/2/2021).

Cara kedua, yaitu Pegadaian dan PNM menerbitkan instrumen pendanaan, tetapi bunganya lebih rendah karena dijamin oleh BRI.

Dengan demikian, pembentukan holding ultra mikro akan mengefisienkan cost of fund yang akan berdampak kepada bunga pinjaman nasabah. Di samping itu, average cost lebih efisien karena jaringan yang dapat digunakan bersama.

Sunarso mengatakan penurunan suku bunga yang bisa ditransferkan kepada masyarakat memang tidak besar. Dia menyebut suku bunga pinjaman PNM bisa turun 3 persen, sedangkan Pegadaian sekitar 1,5 persen.

"Tapi kalau dibandingkan dengan eksisting, mereka ambil dari rentenir pagi 4 sore dibalikin 6, kemudian kalau dihitung per tahun suku bunganya bisa 100 persen sampai 500 persen. Dari survei kami, pembiayaan dari yang formal pun lebih tinggi," imbuhnya.

Menurutnya, ekosistem ultra mikro ini tidak akan menjadi pesaing BPR atau lembaga keuangan lainnya. Pembentukan holding tersebut akan menyasar usaha ultra mikro yang belum mendapatkan akses pembiayaan formal.

Sunarso menyebut saat ini terdapat 57 juta usaha ultra mikro (UMi) yang layak mendapatkan pinjaman. Dari jumlah tersebut, 30 juta pelaku usaha di antaranya belum mendapat akses pendanaan formal.

"Syukur kami bisa menarik mereka yang bunganya 100-500 persen itu untuk masuk ke ekosistem ini," ujarnya.

Sebagai informasi, Kementerian BUMN berencana membentuk holding ultra mikro yang melibatkan BRI, Pegadaian, dan Permodalan Nasional Madani. Tujuan pembentukan holding tersebut untuk mengakselerasi akses keuangan UMKM.

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan integrasi tersebut akan menyasar 57 juta nasabah Ultra Mikro (UMi) dan UMKM. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 juta nasabah di antaranya belum memiliki akses keuangan formal.

"Jadi, memang tujuan utama integrasi Ultra Mikro untuk membangu satu ekosistem yang meng-onboard para pelaku usaha UMi yang memang belum terjangkau keuangan formal," katanya dalam diskusi webinar tentang Kebangkitan UMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional, Senin (18/1/2021).

Tiko, sapaan akrabnya, menambahkan sinergi tersebut fokus pada tiga hal. Yakni, mengefisienkan cost of fund sehingga bisa lebih rendah, sinergi jaringan sehingga ekspansi usaha bisa dilakukan dengan biaya lebih murah, serta sinergi digitalisasi dan platform untuk optimalisasi pemberdayaan satu data yang bisa menjangkau data UMKM nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini