Holding dengan BRI dan Pegadaian, Ini Lho yang jadi Incaran Utama PNM

Bisnis.com,11 Feb 2021, 07:30 WIB
Penulis: Aziz Rahardyan
Kantor PNM/pnm.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Pangsa pasar dan efektivitas biaya operasional jadi incaran utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) ketika resmi bergabung dalam holding ultra mikro bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Pegadaian (Persero).

Seperti diketahui, pemerintah saat ini sedang mengkaji penggabungan tiga BUMN yang akan terlibat dalam pembentukan holding ultra mikro, yakni BRI, Pegadaian, dan PNM.

EVP Keuangan dan Operasional PNM Sunar Basuki menjelaskan bahwa hal ini menilik biaya aktivitas bisnis yang terbilang tinggi, terutama terkait tatap muka menjangkau nasabah dan melakukan fungsi pendampingan.

"Holding ultra mikro akan membuat posisi PNM di pasar lebih kompetitif. Tentu akan ada dampak ke market share. Kalau market share kami luas, biaya service di suatu wilayah bisa terbagi, sehingga biaya per nasabah lebih rendah," ungkapnya, Rabu (10/2/2021).

Hal ini tergambar dari kinerja PNM selama 2020, di mana walaupun pendapatan usaha tercatat naik 12,1 persen (yoy) menjadi Rp5,77 triliun dari Rp5,15 triliun pada 2019, tetapi beban usaha turut ikut naik beriringan, mencapai 14,2 persen (yoy) ke angka Rp5,56 triliun dari Rp4,86 pada 2019.

Hal ini membuat PNM hanya sanggup memperoleh laba bersih Rp359 miliar, tercatat turun hingga 63,3 persen (yoy) dari capaian 2019 di Rp977 miliar, dengan catatan turut andilnya dampak pandemi Covid-19 pada kinerja perseroan, terutama pada Q2/2020.

Sunar menambahkan apabila holding terealisasi, efektivitas bisnis pun bisa tercapai akibat dukungan pendanaan yang lebih kompetitif dari perbankan selaku induk holding.

Dengan biaya dana atau cost of fund sumber pembiayaan yang lebih terjangkau, harapannya suku bunga pembiayaan kepada nasabah pun bisa menurun.

Sebagai gambaran, sejak 2016 sampai 2020, sumber pendanaan PNM masih didominasi dari aktivitas penerbitan surat utang di pasar modal.

Dari total pendanaan yang diterima sepanjang 2020 di Rp22,57 triliun, persentase pendanaan pasar modal mencapai 59 persen atau setara Rp13,3 triliun, disusul pendanaan perbankan sebesar 28 persen atau Rp6,22 triliun, dan pemerintah 13 persen atau Rp3,04 triliun.

"Tapi kami akan tetap mempertahankan dominasi pendanaan dari pasar modal. Yang terbaru, pada Q1/2021 ini kami akan menerbitkan Obligasi Penawaran Umum Berkelanjutan PNM Tahap III dengan total Rp666,2 miliar," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini