Bank Syariah Indonesia (BRIS) jadi Anak Usaha BMRI Penyumbang Laba Terbesar

Bisnis.com,28 Apr 2021, 16:00 WIB
Penulis: M. Richard
Gedung berlogo Bank Syariah Indonesia yang berada di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (31/1/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA -- Sumbangan laba bersih anak usaha atau subsidiaries PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. semakin baik pada tahun ini.

Bahkan, kinerja PT Bank Syariah Indonesia Tbk. yang efektif pada kuartal I/2021 memberi masukan laba 8,5 persen dari total laba bersih konsolidasi Bank Mandiri yang senilai Rp5,9 triliun.

Berdasarkan paparan kinerja Bank Mandiri yang dipublikasikan pada Selasa (27/4/2021), total laba bersih setelah pajak dari anak-anak usaha Bank Mandiri mencapai Rp871,2 miliar.

Kontribusi dari BSI mencapai Rp504,9 miliar atau lebih dari separuh total sumbangan anak usaha BMRI. Setelahnya, ada Axa Mandiri yang memberi kontribusi Rp108 miliar, Bank Mandiri Taspen Rp107,4 miliar, Mandiri Sekuritas Rp73,4 miliar, dan lainnya Rp77,5 miliar.

Adapun, BSI tercatat mampu mendongkrak kinerja fungsi intermediasi pembiayaan syariah sebesar 14,7 persen secara tahunan menjadi Rp159,1 triliun.

Adapun, aset Bank Mandiri secara konsolidasi pada kuartal I/2021 tercatat mencapai Rp1.584,1 triliun. Nilai tersebut meningkat 20 persen secara tahunan atau year on year.

Kenaikan signifikan ini terutama didorong oleh proses merger anak usahanya, yaitu Bank Syariah Mandiri dengan BRI Syariah dan BNI Syariah menjadi Bank Syariah Indonesia.

"Hasil merger tersebut menjadi entitas perusahaan anak Bank Mandiri," kata Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi, Selasa (27/4/2021).

Selain itu, kenaikan dana pihak ketiga (DPK) dan penyaluran kredit juga ikut mendongkrak aset BMRI. Hingga kuartal I/2021 DPK Bank Mandiri secara konsolidasi hingga kuartal I/2021 tumbuh 25,5 persen yoy menjadi Rp1.181,3 triliun.

Secara bank only, penyaluran kredit Bank Mandiri pada periode yang mencapai Rp779,0 triliun, ditopang oleh segmen wholesale yang tumbuh tipis 0,18 persen YoY menjadi Rp513,9 triliun serta segmen UMKM yang tumbuh baik sebesar 3,22 persen YoY menjadi Rp92,1 triliun.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan aksi merger telah menempatkan BSI berada di urutan ke-7 secara total aset di perbankan nasional.

Setelah itu, BSI diharapkan bisa menjadi bank syariah dengan layanan yang kuat, memberikan produk dengan kualitas yang bagus dan harganya murah, serta menyediakan berbagai produk yang dibutuhkan masyarakat.

"Kalau tidak [merger] ya [asetnya] kecil-kecil semua. Kalau kecil ini pasti tidak bisa menawarkan produk yang kualitasnya bagus dan harganya murah. Masyarakat mungkin masuk karena terpaksa," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini