Minim Risiko, Investor Pemula Mending Masuk SBN Ritel daripada Bitcoin atau Saham

Bisnis.com,20 Mei 2021, 18:16 WIB
Penulis: Dhiany Nadya Utami
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia/Antara-Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA - Karakteristik Surat Berharga Negara (SBN) Ritel yang minim risiko dan memberikan imbal hasil lebih tinggi dari deposito dinilai cocok bagi investor pemula yang baru mengenal pasar modal, dibandingkan dengan langsung masuk ke pasar saham atau bahkan ke aset kripto.

Head of Economic Research Pefindo Fikri C. Permana secara historis kupon atau imbal hasil yang ditawarkan oleh SBN ritel hampir selalu lebih tinggi dibandingkan dengan imbal hasil deposito perbankan.

Di sisi lain, karakteristik SBN Ritel cenderung minim risiko dan sangat mirip dengan deposito, yang mana SBN Ritel menawarkan imbal hasil rutin dengan besaran yang tetap, bahkan bisa naik jika memang kupon yang ditawarkan bersifat floating (mengambang) tapi tidak mungkin turun karena biasanya terdapat floor atau batas bawah.

Sebagai gambaran, seri SBN Ritel yang terakhir ditawarkan pemerintah yakni sukuk tabungan seri ST014 menawarkan kupon 5,47 persen. Imbal hasil tersebut lebih besar dari suku bunga deposito yang berkisar 4—5 persen.

“Jadi kalau memang masyarakat ingin pindah dari tabungan perbankan [ke aset pasar modal] ini sangat cocok. Bisa belajar step by step, dari tabungan harusnya ke fixed income dulu,” katanya kepada Bisnis, Rabu (19/5/2021)

Fikri menyoroti fenomena yang belakangan terjadi di pasar keuangan di Indonesia, yang mana masyarakat mulai mengenal pasar modal dan langsung masuk ke instrumen-instrumen berisiko tinggi karena tergoda oleh return tinggi dan tren yang berkembang.

“Polanya serupa. Oktober—Desember tahun lalu saham ramai karena lagi uptrend, lalu Januari kena anjlok pada hilang semua, pada masuk Bitcoin yang lagi ramai ditambah pompom-nya Elon Musk, sekarang kripto anjlok juga mulai pada hilang juga,” tutur Fikri.

Menurutnya, akan lebih baik jika masyarakat yang baru masuk pasar modal belajar berinvestasi secara bertahap, mulai dari instrumen berisiko rendah, sedang, baru kemudian menjajal instrumen-instrumen berisiko tinggi.

“Harus ada tangganya, nggak ada salahnya ke fixed income dulu, SBN dulu. Lalu reksa dana misalnya, belajar baca dan pahami fund fact sheet, baru nanti kalau sudah mengerti coba yang lain,” ujarnya lagi.

Hal ini untuk menghindari rasa “kapok” berinvestasi karena jika langsung masuk ke instrumen berisiko tinggi tentu investor akan dihadapkan pada volatilitas yang tinggi pula dan berpotensi merugikan jika tidak benar-benar memahami pasarnya.

“Apalagi sekarang investor lagi tumbuh pesat, takutnya jadi boomerang buat pasar keuangan. Saat mereka loncat [langsung ke aset berisiko] lalu ada loss, bilang pasar saham atau kripto tidak baik, jadi pada takut masuk lagi. Makanya mulai dari yang sederhana dulu saja seperti SBN,” imbuh dia.

Sementara itu pemerintah menjadwalkan penerbitan 6 seri SBN Ritel tahun ini terdiri atas 2 Obligasi Negara Ritel (ORI), 2 Sukuk Ritel (SR), 1 Savings Bond Ritel (SBR), dan 1 Sukuk Tabungan (ST). Selain itu ada pula 1 Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS).

Adapun, dua di antaranya telah meluncur di awal tahun yakni seri ORI019 pada 25 Januari 2021 dan seri SR014 pada 26 Februari 2021. Di luar seri-seri tersebut, pemerintah juga telah menawarkan CWLS seri SWR002 mulai April lalu.

Jelang pertengahan tahun ini, tepatnya 21 Juni 2021 mendatang, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pegelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan bakal meluncurkan SBN ritel baru yakni seri SBR010.

“Sejauh ini masih on schedule,” kata Direktur Surat Utang Negara DJPPR Deni Ridwan ketika dikonfirmasi perihal tanggal rilis SBR010.

Akan tetapi, Deni tidak menginformasikan lebih lanjut mengenai target penawaran masuk maupun besaran kupon yang akan ditawarkan SBN ritel nontradable tersebut. Biasanya, angka kupon akan muncul mendekati tanggal penawaran seri tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Ropesta Sitorus
Terkini