Saham BBCA, BBRI, BBNI Mendadak Anjlok, Mantan Bos Bursa Murka!

Bisnis.com
Oleh:
Eusebio Chrysnamurti Nasabah berbicara dengan karyawan melalui Video Banking di salah satu Kantor Cabang Bank BCA di Jakarta, Rabu (23/9/2020). Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Berjatuhannya saham-saham bank jumbo jelang penutupan perdagangan Kamis (27/5/2021) menimbulkan kritik, terutama terkait kebijakan pre-closing.

Pada penutupan perdagangan, saham BBCA anjlok 1,34 persen atau 425 poin menjadi Rp31.350. Padahal, beberapa menit sebelum penutupan saham BBCA mencapai level tertinggi harian di Rp32.400.

Selanjutnya, saham BBRI mengalami fenomena serupa. Saham BBRI turun 2,71 persen atau 110 poin menuju Rp3.950. Saham BBRI mendadak lemas setelah sebelumnya menghijau di level Rp4.190.

Saham BBCA memiliki kapitalisasi pasar terbesar di Bursa, yakni sejumlah Rp772,93 triliun. Adapun, saham BBRI berada di peringkat kedua terbesar dengan kapitalisasi pasar Rp487,22 triliun.

Saham perbankan jumbo lainnya yang mendadak koreksi jelang penutupan ialah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), yang turun 3,29 persen atau 175 poin menuju Rp5.150. Padahal, saham BBNI sempat menyentuh level Rp5.500.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) juga ditutup turun 2,54 persen atau 150 poin menjadi Rp5.750. Tidak seperti 3 saham lainnya, saham BMRI memang sudah cenderung melemah sejak sesi II pukul 13.30 WIB.

Hasan Zein Mahmud, Direktur Utama Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode pertama (1991-1996), pun angkat bicara mengenai mendadak ambrolnya saham-saham bank jumbo. Dia mempertanyakan keadilan dari sistem pre-opening dan pre-closing yang diaplikasikan BEI.

"Peristiwa tutup pasar sore ini, walau tidak berkaitan dengan saham-saham dalam portfolio saya, sungguh menggiriskan. Empat saham bank besar - penggerak IHSG - dibanting habis pada saat pre-closing, menggunakan keunggulan mereka. Keunggulan dalam skala memberi peluang mereka menjadikan sistim pre-closing sebagai mainan," papar Hasan dalam tulisannya.

Menurut Hasan, saham BBCA, dengan kapitalisasi terbesar, yang lagi menanjak diseret turun dari harga sekitar Rp32.400 sebelum pre-closing ke Rp31.350. Dari hijau berubah seketika menjadi merah.

Hal serupa terjadi juga  pada saham BBRI, BMRI, dan BBNI. Empat bank tersebut berkapitalisasi paling besar di BEI, sebelum demam bank digital jadi pandemi para spekulan saham.

Hasa menyampaikan cara kerja Dutch Auction yang digunakan BEI pada pre-opening dan pre-closing, dalam sistem itu dari beberapa harga yang matched, diambil harga dengan peredaran paling banyak.

"Saya ulangi kata paling banyak. Jelas mereka yang memiliki stock saham lebih besar dan uang lebih banyak, dengan leluasa menentukan harga melalui sistem itu. Kesengajaan itu semakin kentara, karena pialang yang melakukan "guyuran" di empat saham itu adalah pialang yang sama," ujarnya.

Sebagai penutup, Hasan menuliskan peristiwa tutup pasar saham hari ini, Kamis 27 Mei 2021, menunjukan bahwa lempar dadu menjanjikan outcome yang lebih adil.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Kamis (27/5/2021). Namun, indeks yang sempat melompat 1 persen lebih menembus level 5.900 itu menimbulkan tanda tanya, setelah menukik ke level terendah saat penutupan.

Pada akhir sesi II pukul 15.00 WIB, IHSG naik 0,45 persen atau 25,98 poin menjadi 5.841,83. Sepanjang sesi, indeks bergerak di rentang 5.841,83-5.904,84.

Regina Fawziah, Equity Research Analyst Erdikha Elit Sekuritas, menyampaikan indeks pada perdagangan hari ini membentuk pola inverted hammer. Total transaksi mencapai Rp22,9 triliun dengan volume transaksi 25,34 miliar saham.

Investor asing melakukan aksi jual bersih Rp85,3 miliar pada beberapa saham LQ45 seperti PGAS dengan net foreign sell  Rp391 miliar, BMRI Rp179 miliar, BBRI Rp124 miliar, BBNI Rp87 miliar, INCO Rp56 miliar, dan KLBF Rp32 miliar.

 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor: Hafiyyan

Berita Lainnya: