PPKM Darurat, Agen Asuransi Tetap Getol Dekati Nasabah

Bisnis.com,07 Jul 2021, 00:30 WIB
Penulis: Aziz Rahardyan
Karyawan memotret deretan logo-logo perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Jakarta, Selasa (22/9/2020). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Industri asuransi jiwa terselamatkan oleh fleksibilitas pemanfaatan teknologi komunikasi untuk pemasaran produk, yang kebetulan bertemu dengan awareness masyarakat yang semakin tinggi selama era pandemi.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengungkap hal ini berkaitan dengan pendapatan premi industri asuransi jiwa yang mencapai pada kuartal I/2021 mencapai Rp57,45 triliun atau naik 28,5 persen (year-on-year/yoy).

"Apalagi bisa dilihat kondisi pandemi sekarang ini, uang itu enggak ada artinya kalau rumah sakit penuh, kalau oksigen kurang. Jadi yang saya tekankan itu asuransi harusnya sudah dianggap seperti surat cinta suami untuk istrinya dan anak-anaknya," ungkapnya dalam diskusi virtual, Selasa (6/7/2021).

Namun demikian, tantangan terkini yang dihadapi industri berasal dari pembatasan aktivitas. Keterbatasan dalam bertemu secara tatap muka dengan calon nasabah menjadi salah satunya.

"Memang approach nasabah itu agak susah karena menawarkan produk asuransi jiwa itu jarang yang bisa sekali datang langsung closing. Semuanya butuh berproses. Ada pendekatan, ada edukasi, dan macam-macam," jelasnya.

Tak ayal, fenomena ini mendorong kontribusi keagenan dalam pendapatan premi dari bisnis baru senilai Rp37,04 triliun pada kuartal I/2021 mengalami perlambatan sekitar 6 persen (yoy).

Sekadar informasi, kontribusi terbesar penyumbang pendapatan premi industri masih didominasi bancassurance sekitar 53 persen, saluran distribusi alternatif 18,8 persen, distribusi keagenan hanya 5,8 persen, dan telemarketing 14,3 persen.

Oleh sebab itu, AAJI berharap agen semakin inovatif dan semakin banyak, dengan harapan mendongkrak tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya asuransi sebagai perlindungan jangka panjang.

Pasalnya, agen asuransi jiwa tengah dicari dan dipercaya oleh masyarakat sebagai pendamping dalam memberikan edukasi tentang perencanaan keuangan keluarga, sehingga jangan sampai perusahaan asuransi tidak mendukung pengembangan agen, dan tidak melakukan pengawasan yang baik sehingga banyak terjadi misselling dan praktik-praktik penjualan yang melanggar etika.

Miliana Marten, Country Chair Million Dollar Round Table (MDRT) Indonesia menjelaskan pentingnya bagi para agen asuransi jiwa untuk terus belajar dari para kolega, berani memanfaatkan platform-platform digital yang dipunya, serta tetap haus akan peningkatan profesionalitas dan kompetensi.

"MDRT sendiri ada support komunitas, dari luar negeri pun share pengalaman bahwa sebenarnya transaksi secara virtual itu dimungkinkan, tanpa face to face. Selain itu, tentunya terbantu relaksasi dari otoritas. Sekarang ini kita memang harus memanfaatkan yang ada. Saya sendiri sering Zoom pribadi one on one ke klien, edukasi nasabah lewat video call, promosi di sosial media, dan lain-lain. Terpenting, produktivitas para agen harus tetap jalan walaupun dari rumah," jelasnya.

Lewat langkah inovatif di era new normal ini, Miliana berharap ke depan jumlah agen yang masuk anggota MDRT di Indonesia meningkat, yang mencerminkan semakin banyak agen-agen asuransi bertaraf internasional di Indonesia. Harapannya, hal ini akan meningkatkan kualitas agen asuransi di Indonesia, dengan pelayanan yang profesional sesuai code of ethics MDRT.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Rio Sandy Pradana
Terkini