Mau Cuan Investasi Fintech P2P Lending? Simak Tingkat Imbal Hasil Investree Sampai Danamas

Bisnis.com,12 Jul 2021, 22:21 WIB
Penulis: Aziz Rahardyan
Ilustrasi teknologi finansial/Flickr

Bisnis.com, JAKARTA - Menjadi pendana (lender) di platform teknologi finansial peer-to-peer (fintech P2P) lending menjadi alternatif investasi yang masih mampu menjanjikan imbal hasil menjanjikan di tengah lonjakan Covid-19 pada pertengahan periode 2021.

Sesuai dengan risiko yang termasuk kategori 'high risk' ketimbang instrumen investasi lain, return dari kegiatan mendanai peminjam (borrower) UMKM lewat platform P2P lending tentu sesuai dengan dan terbilang jauh di atas deposito.

Adapun, salah satu risiko yang paling menghantui lender di era lonjakan kasus Covid-19 dan pembatasan sosial ini tentunya pengembalian pinjaman yang terlambat atau macet. Bagaimana cara platform P2P menjaga keseimbangan dan meyakinkan para pendana untuk tetap berkontribusi?

PT Investree Radhika Jaya (Investree) sebagai salah satu pemain besar dari klaster pendanaan produktif, memilih berfokus menerima pengajuan pembiayaan berisiko rendah, dari industri tertentu yang minim terdampak pandemi.

Co-Founder & CEO Investree Adrian Gunadi menjelaskan lebih lanjut bahwa dengan dominasi produk invoice financing mencapai 87 persen dari seluruh pinjaman yang ditawarkan, Investree juga terus memperhatikan kondisi borrower, beserta payor yang sudah teruji rekam jejaknya seperti pihak pemerintahan, BUMN, dan perusahaan besar.

"Investree senantiasa menunjukkan performa yang baik, menawarkan peluang pendanaan yang berkualitas serta menerapkan strategi mitigasi risiko secara konsisten dan komprehensif. Hingga saat ini pun, rata-rata imbal hasil atas pendanaan di Investree masih mencapai 16,7 persen p.a," jelas Adrian kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Platform yang telah melebarkan sayap hingga Filipina dan Thailand ini sendiri telah menggandeng lebih dari 31.000 entitas unique lender untuk platform Indonesia, di mana 99 persen merupakan lender retail atau perorangan yang bisa mendanai mulai dari Rp1 juta.

Para lender retail telah berkontribusi atas 64 persen porsi pendanaan yang tersalurkan, sementara sisanya atau 36 persen, disumbang oleh 1 persen lender institusi.

Salah satu pemain klaster produktif lain, PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku) juga mengaku masih optimistis tak semua borrower berpotensi macet atau gagal bayar di tengah lonjakan Covid-19.

Platform yang kerap menyasar borrower para pelaku e-commerce atau pemilik 'lapak' online ini pun menegaskan akan semakin selektif dan menggelar analisis kredit yang lebih komprehensif di tengah fenomena ini. Namun, lender juga harus 'pintar-pintar' memilih borrower prospektif dan diverifikasi ke banyak segmen.

"Secara umum, pendana bisa mendapatkan tingkat bunga hingga 17 persen p.a. tergantung dengan preferensi dan toleransi risiko masing-masing pendana," jelas Co-Founder & CEO Modalku Reynold Wijaya kepada Bisnis.

Senada, CEO & Co-founder PT Lunaria Annua Teknologi atau KoinWorks Benedicto Haryono sempat mengungkapkan, imbal hasil optimal lebih bisa didapatkan oleh lender melakukan diverifikasi pendanaan kepada puluhan, bahkan ratusan borrower berbeda.

"Catatan kita buat lender yang melakukan pendanaan kepada 100 borrower lebih, masih bisa memiliki imbal hasil rata-rata 14-25 persen p.a. Bagi yang menebar pendanaan ke sekitar 50 borrower, bukan tak mungkin memiliki imbal hasil serupa. Ini hanya soal kemungkinannya saja yang lebih kecil," ujarnya dalam diskusi virtual.

Adapun, bagi platform P2P yang menyasar segmen borrower UMKM wanita pedesaan PT Amartha Mikro Fintek atau Amartha, memperbanyak penawaran portofolio borrower dari Luar Jawa, membangun sistem pembayaran secara online, serta terus memperbaiki skor kredit, jadi kunci menjaga kepercayaan lender.

Chief Risk and Sustainability Officer Amartha Aria Widyanto menuturkan, lender tak perlu khawatir karena model bisnis Amartha yang unik, yaitu pendekatan dan pembinaan borrower secara offline oleh tim lapangan, nyatanya mampu menekan dampak pandemi terhadap keberlanjutan usaha para borrower.

Bahkan, nantinya Amartha berupaya mengakomodasi kebutuhan borrower secara lebih lengkap di tahun ini agar usaha mereka lebih terjaga dan semakin optimal, di antaranya digitalisasi desa, belanja borongan, pinjaman warung, hingga asuransi.

"Terkini, Amartha masih sanggup memberikan imbal hasil buat para pendana [lender] hingga 15 persen flat per tahun, dengan pengembalian pinjaman secara mingguan dengan tenor rata-rata 50 minggu," ungkap Aria kepada Bisnis.

Sementara itu, PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia atau Akseleran dengan segmen borrower andalan yang notabene tak terlalu terpengaruh Covid-19, seperti sektor engineering, konstruksi, business & consumer services, coal & related energy, online merchant, dan oil & gas, memilih meningkatkan proteksi untuk lender.

"Rata-rata imbal hasil sekarang di 13,5 persen p.a, di semester II/2021 juga akan sekitar itu juga. Ini turun dari tahun lalu di kisaran 15 persen p.a, karena konsistennya tingkat NPL Akseleran yang relatif rendah, dan kita naikkan proteksi asuransi dari sebelumnya 85 persen dari pokok pinjaman menjadi 90 persen pokok pinjaman. Jadi risiko turun sehingga imbal hasil juga turun," ungkap CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan.

Terakhir, PT Pasar Dana Pinjaman atau Danamas juga mengaku bahwa segmen borrower incarannya tidak terlalu terdampak pandemi dan risikonya untuk gagal bayar terbilang rendah.

Direktur Utama Danamas Dani Lihardja menjelaskan hal ini karena segmen borrower andalan Danamas yang berbasis ekosistem keagenan, seperti agen pulsa, logistik, penyedia layanan COD, petani buah, dan peternak, biasanya hanya membutuhkan pinjaman tempo singkat.

Selain itu, biasanya seorang agen berada di bawah korporasi besar sebagai 'pembina', sehingga penyaluran pinjaman Danamas kepada borrower kebanyakan tersalurkan dalam bentuk non-cash atau langsung berupa barang modal, seperti saldo pulsa, bibit, atau pupuk, lewat pembina yang telah memiliki kerja sama dengan Danamas.

"Kalau imbal hasil untuk lender di Danamas itu di antara 10 sampai 12 persen p.a. Segmen Danamas tetap dari dulu, yaitu untuk sektor usaha kecil, pedagang pulsa, petani, dan peternak, sehingga sejauh ini komoditi yang dibiayai oleh para pemodal Danamas tidak terlalu terpengaruh [pandemi & pembatasan sosial]," jelas Dani kepada Bisnis.

Sekadar informasi, anak usaha emiten PT Sinar Mas Multiartha Tbk. atau SMAA (66,66 persen) bersama Itochu Corporation Japan sebesar (33,34 persen) ini tercatat telah berhasil merangkul lebih dari 238.000 pemodal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Ropesta Sitorus
Terkini