Bos BCA Bagi Saran Cara Pilih Saham Bank Digital. Simak!

Bisnis.com,27 Jul 2021, 16:05 WIB
Penulis: Azizah Nur Alfi
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Jahja Setiaatmadja memaparkan sejumlah syarat yang perlu menjadi pertimbangan untuk memilih saham bank digital terbaik.

Jahja mengatakan dari sisi industri, baik bank konvensional dan bank digital memiliki prospek yang bagus dalam tiga tahun mendatang. Oleh karena itu, BCA telah menyiapkan bank digital melalui anak usahanya, PT Bank Digital BCA. Bahkan, BCA Digital juga disiapkan untuk melantai di bursa dalam 1-2 tahun mendatang.

Diketahui, saat ini sejumlah emiten bank ramai-ramai bertransformasi menjadi bank digital. Sejalan dengan transformasi digital yang dilakukan, sahamnya juga laris manis diburu investor tercermin dari kenaikan harga sahamnya.

Jahja mengatakan saat ini siapapun dapat membuat bank digital. Namun, dengan berjalannya waktu, bank-bank digital akan terseleksi dengan sendirinya, sehingga menyisakan bank-bank digital terbaik.

"Kalau saham mana yang harus dipilih, itu seleksi alam. Kita tahu ada Kakao Bank, ada berapa [bank digital] di Korea rasanya ada satu yang sukses, bukan 5 atau 10. Kemudian ada Wechat Alipay, apakah ada 100 enggak juga. Alam akan menseleksi siapa yang akan lead the market, mesin fundamental industri bagus," katanya dalam webinar virtual, Selasa (27/7/2021).

Menurut Jahja, ada beberapa syarat yang perlu menjadi pertimbangan untuk menentukan saham bank digital yang terbaik. Pertama, bank tersebut harus memiliki produk yang bagus sesuai dengan kebutuhan milenial.

Kedua, bank harus mempunyai merchant atau ekosistem yang besar. Ketiga, bank juga harus mempunyai critical mass atau pengguna jasa yang harus terus dikembangkan.

"Kalau customer cuma 100.000 sampai 300.000 itu enggak ada apa-apanya. Jutaan itu harus dicapai dalam waktu 1-3 tahun," imbuhnya.

Syarat berikutnya, bank digital harus memiliki permodalan yang kuat. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan investasi dalam teknologi. Di samping itu, pada awal beroperasinya, bank digital harus siap merugi.

"Jadi, anda [bank digital] harus memiliki equity yang besar untuk ditaruh di SBN atau di dana BI atau satu dua kredit korporasi untuk dapat cuan untuk menutupi kerugian. Tanpa itu enggak bisa, plus anda harus bisa meng-hire orang teknologi yang saat ini rebutan antara fintech dengan perbankan," katanya.

Beberapa hal itu harus menjadi pertimbangan sebelum memilih saham bank digital mana yang bagus dan tidak. "Meskipun kita punya pasar 260 juta jiwa itu rasanya kalau ada 5 leader [bank digital] rasanya sudah kebanyakan," ujarnya.

Menurutnya, analisa tersebut bukan omong kosong. Hal ini sudah terbukti dari jumlah bank yang mencapai 200 entitas pada 1988 dan saat ini hanya beberapa yang menjadi penghuni indeks LQ45.

"Kita lihat di China dan Korea, mereka juga cuma satu dua, enggak ada 10 di Korea yang betul sukses. Dan itu mereka punya nasabah banyak dan platform yang besar dan modal yang kuat. Itu memenuhi semua syarat yang saya katakan. Jadi, kalau kita mau melakukan pilihan, ya tentu harus bisa memilih mana yang terbaik," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini