Kehadiran Holding Ultra Mikro Dinilai Akan Menyerap Tenaga Kerja

Bisnis.com,30 Jul 2021, 14:59 WIB
Penulis: Khadijah Shahnaz
Logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terpasang di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA - Kehadiran holding ultra mikro yang melibatkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) diyakini memberikan efek domino pada penyerapan tenaga kerja di Tanah Air.

Direktur Pusat Kajian Komunikasi dan Ekonomi Digital (Puskom Digi) Yama Sumbodo mengatakan dengan lahirnya holding ultra mikro pasca-aksi korporasi rights issue BRI, ke depan beragam produk layanan jasa keuangan akan mampu dihadirkan dengan jangkauan dan akses yang lebih luas.

Dengan demikian harapannya pertumbuhan bisnis pelaku usaha kecil akan semakin masif dan kuat. Hal tersebut dinilai dapat berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja.

"Kehadiran holding [Ultra Mikro] yang baru ini tentu kita harapkan ada efek dominonya terhadap serapan tenaga kerja. UMKM tumbuh artinya skala bisnisnya makin besar, ada peluang untuk berkembang, baik dari sisi pengembangan usaha maupun tenaga kerjanya," tuturnya dalam keterangan resmi pada Jumat (30/7/2021). 

Seperti diketahui, holding tersebut segera terbentuk setelah RUPSLB digelar PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. pada Kamis (22/07). BRI mendapatkan persetujuan rights issue dengan mekanisme Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) dari mayoritas pemegang saham.

Melalui PMHMETD, pemerintah akan menyetorkan seluruh saham Seri B miliknya dalam PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) kepada BRI melalui mekanisme inbreng. Dana hasil dari aksi korporasi itu diantaranya akan dimanfaatkan oleh BRI untuk pembentukan holding ultra mikro.

Mengutip data Kementerian Koperasi dan UKM, Yama menyebut sekitar 97% tenaga kerja berada di sektor UMKM termasuk usaha ultra mikro di dalamnya. Dia pun merujuk data dari kementerian yang sama bahwa total kredit perbankan untuk sektor UMKM baru mencapai 19,97%.

Di sisi lain, 90% lebih usaha di Indonesia masih masuk dalam kategori kecil dan menengah. "Sehingga holding ultra mikro ini diharapkan mengisi ruang-ruang yang belum dijamah lembaga-lembaga keuangan lain," ujar Yama yang juga dosen di Universitas Ibnu Khaldun itu.

Yama menambahkan, holding ini bakal menjadi jembatan bagi usaha ultra mikro maupun UMKM untuk naik ke level bisnis yang lebih tinggi alias naik kelas. Hal itu tak lepas dari pendekatan dan model bisnis yang akan dijalankan masing-masing perusahaan pelat merah tersebut.

Seperti diketahui, BRI, Pegadaian dan PNM bukan hanya mampu menyalurkan dana kepada masyarakat tataran bawah untuk pengembangan usaha, namun juga disertai pembinaan dan pemantauan keberhasilan usaha.

Oleh karena itu, Yama meyakini integrasi ini dapat meningkatkan kinerja dan sinergi perseroan yang terlibat. Bahkan, dia menilai holding tak akan menghilangkan keunikan produk dan fokus bisnis BRI, Pegadaian maupun PNM.

"Justru yang terjadi adalah perluasan akses pasar, konsumen, dan keuntungan. Kita harap UMKM terus tumbuh dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," kata dia.

"Satu lagi yang terpenting adalah kultur dan budaya yang selama ini terbangun di BRI, Pegadaian, dan PNM harus dipertahankan. Sudah solid. Tinggal diintegrasikan dan dibenahi aspek-aspek minornya," tegasnya.

Holding UMI Ciptakan Efisiensi

Terpisah, Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Mirza Adtyaswara menyatakan hal serupa. Menurut Mirza, kehadiran holding akan memperkuat kinerja ketiga perseroan dalam pemberdayaan usaha wong cilik.

Layanan jasa keuangan yang nantinya ditawarkan untuk membantu pengembangan pelaku usaha di segmen UMKM dan UMi akan lebih efektif dan efisien.

“Kalau ada BRI harapannya adalah BRI bisa memberikan bantuan teknologi, bisa lakukan efisiensi-efisiensi terkait untuk biaya, dan kemudian bisa sinergi produk,” ujarnya.

Dengan demikian dia berharap loan to GDP Indonesia bisa lebih besar dari 32% melalui akselerasi ke depan. Dia menyebut negara kita masih kalah dibandingkan dengan negeri jiran. Banyak negara tetangga memiliki persentase loan to GDP di angka 50%.

“Kita melihat negara maju, Singapura, sudah pasti loan to GDP sudah di atas 100%,” ujarnya.

Senada, Head of Research PT Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengatakan setelah holding cost of fund menurutnya akan bisa ditekan menjadi lebih rendah karena ketiga perseroan menjadi satu kesatuan ekosistem. Hal itu tentunya selain menguntungkan bagi perseroan, juga akan sangat terasa manfaatnya bagi usaha masyarakat di tataran bawah.

“Sebagai contoh penyaluran KUR yang menonjol saya lihat hanya BRI. Sehingga saya percaya BRI bersama Pegadaian dan PNM akan lebih baik lagi dalam pemberdayaan UMKM dan ultra mikro. Dan efisiensi yang dihadirkan melalui integrasi ini tentunya salah satu yang menarik kepercayaan investor,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Ropesta Sitorus
Terkini