Bagai Bumi dan Langit, Perbandingan Bumiputera dengan Asuransi Mutual di Luar Negeri

Bisnis.com,06 Agt 2021, 21:13 WIB
Penulis: Aziz Rahardyan
Pejalan kaki melintas di dekat gedung Wisma Bumiputera di Jakarta. Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Para pemegang polis Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, bakal mendapat tantangan besar untuk bisa legowo menerima potensi kerugian perusahaan.

Sebagai nasabah satu-satunya asuransi mutual di Indonesia, hal ini merupakan keniscayaan, karena memang begitulah cara kerja perusahaan. Seperti diketahui, asuransi mutual sebenarnya mirip dengan koperasi, di mana tidak memiliki pemilik/pemegang saham pengendali dan seluruh anggota/pemegang polis merupakan pemilik usaha.

Hal ini diungkap Budi Tampubolon, Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia sekaligus CEO Asuransi Jiwa Inhealth, dalam diskusi virtual Urgensi Pembentukan BPA dalam Penyelesaian AJB Bumiputera, Jumat (6/8/2021).

"Harus dipahami bersama bahwa dengan memiliki polis AJB Bumiputera, pemegang polis memiliki hak istimewa untuk ikut memiliki perusahaan ini. Konsekuensinya, tentu sebagai pemilik usaha ada pembagian keuntungan atau kerugian dari kinerja perusahaan," jelasnya.

Budi pun menceritakan studi kasus terkait asuransi mutual di luar negeri. Di mana, apabila memiliki tata kelola yang baik, asuransi berkonsep mutual ini sebenarnya memiliki tujuan yang mulia, yaitu berbagi risiko dan semangat gotong royong.

Di banyak negara, asuransi mutual atau asuransi jiwa bersama pun sangat lazim, dan kebanyakan berusia sangat tua. Sebagai contoh, di Perancis antara lain Liberty Mutual, Monceau, Credit Mutuel, dan beberapa lainnya.

Sementara di Kanada, antara lain Equitable Life of Canada, Assumption Mutual Life, La Capitale. Terakhir, di Jepang, antara lain Asahi Mutual Life Insurance, Fukoku Mutual Life Insurance, serta Nippon Life.

Gedung AJB Bumiputera di kawasan elit Sudirman Jakarta./Bisnis - Himawan L. Nugraha

Apakah asuransi berbentuk mutual terbilang sulit berkembang? Nyatanya tidak. Sebagai gambaran, di Jepang 3 asuransi mutual mampu memasuki 5 besar asuransi jiwa dengan aset terbesar. Aset Nippon Life bahkan mampu mencapai Rp9.000 triliun.

Adapun, merger asuransi SSQ dan La Capitale yang berbasis di Quebec, Kanada, pada 2021 memiliki aset di kisaran Rp173,6 triliun, menjadi yang terbesar ke-6 di Kanada, dan jauh lebih besar dari seluruh aset perusahaan asuransi jiwa di Indonesia.

Budi menggambarkan salah satu studi kasus Nippon Life sebagai asuransi mutual yang mampu memprioritaskan dan memaksimalkan peran para anggota. Rapat tahunan paling tidak selalu terselenggara setiap tahun sejak tahun 1962.

"Ini memberi kesempatan yang besar bagi pemegang polis atau member untuk mengetahui kondisi perusahaan dan menyampaikan suaranya. Nippon Life setidaknya melakukan 3 kali meeting, di mana pada awal tahun sampai-sampai dihadiri oleh hampir seluruh pemegang polis, mencapai 95.000 orang," ungkapnya.

Oleh sebab itu, menurutnya komunikasi yang baik merupakan kunci asuransi mutual berjalan baik. Transparansi atas kinerja keuangan harus selalu dikedepankan oleh perwakilan anggota yang dalam AJB Bumiputera diwakili BPA atau RUA, dan pengurus yang diwakili jajaran komisaris bersama jajaran direksi.

Selanjutnya, kehati-hatian, tata kelola, dan pengelolaan risiko, harus lebih diutamakan, dan jika terjadi keuntungan/kerugian pada tahun tertentu, perusahaan harus secepatnya mengumumkan kepada para anggota dan secepatnya diambil keputusan yang diperlukan.

"Maka, kompetensi, akuntabilitas, dan independensi mereka yang mewakili anggota, harusnya memang orang-orang pilihan. Satu catatan lagi, asuransi mutual di Jepang itu biasanya memiliki perwakilan anggota yang diisi minimal 200 orang atau lebih. Jadi, memang bukan hanya segelintir dan mampu mengakomodasi pendapat nasabah secara luas dan beragam," ujarnya.

Turut hadir Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah yang sepakat bahwa pemilihan orang-orang yang tepat dan bisa menyelesaikan masalah merupakan kunci AJB Bumiputera tetap bisa hidup.

"Memang kalau kita lihat di luar negeri itu luar biasa, bagus sekali. Kalau dibandingkan dengan Jepang, ya, kita jauh sekali. Tapi justru itu yang harus kita raih, idealnya seperti itu. Kita masih ada kesempatan buat ke sana," ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Sebagai orang yang kebetulan juga menjadi salah satu pemegang polis, Piter menjelaskan bahwa semua pihak tidak bisa lagi menunda untuk menyelesaikan masalah, karena semakin lama defisit bisa semakin membesar, melebihi yang sekarang ini di kisaran Rp20 triliun.

Menurutnya, salah satu caranya adalah berani melakukan pengakuan kerugian, dengan risiko akan ada manfaat atau benefit yang dipotong dari premi di tiap nasabah, baik yang tengah jatuh tempo, maupun yang masih berlaku.

"Karena kalau ini tidak diselesaikan segera, nasabah justru akan kehilangan semua. Yang penting ada pengakuan rugi dulu, sedikit terpotong atau tertunda tidak masalah, karena tetap ada peluang untuk nanti untung. Inilah pentingnya orang-orang yang bisa mengkombinasikan pengakuan kerugian dan pembagian kerugian itu seperti apa kepada setiap member," ungkapnya.

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM sekaligus Komisaris Independen PT Jasa Raharja Rimawan Pradiptyo pun mengungkap serupa. Di mana walaupun akan ada dilema, keputusan dari para perwakilan anggota harus tetap cepat, karena pembengkakan defisit akan menjadi bom waktu.

"Ini berat karena memang pilihannya antara tidak enak atau tidak enak sekali. Tapi paling tidak, keputusan bisa membuat masalah menjadi lebih pasti. Karena kalau kondisinya masih seperti sekarang, masalahnya bisa jadi lebih besar," jelasnya.

Terpenting, perwakilan anggota dan direksi AJB Bumiputera ke depan harus benar-benar dipilih yang mampu mengedepankan independensi, supaya permainan monopoli terhadap keberlangsungan usaha tak lagi terjadi.

Setelah masalah utama bisa diselesaikan, maka AJB Bumiputera perlu mengembalikan trust dari masyarakat sehingga bisa berjualan kembali dan pada akhirnya mampu men-generate keuntungan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini