Penurunan Suku Bunga Dasar Kredit Berlanjut Meski Tipis

Bisnis.com,21 Sep 2021, 19:53 WIB
Penulis: Dionisio Damara
Karyawan melintas didekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (30/12/2019). Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan terus berlanjut, meski masih terbatas.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan SBDK terpantau menurun dari 8,82 persen pada Juni 2021 menjadi 8,81 persen pada Juli 2021.

"Suku bunga kredit baru mengalami penurunan pada Agustus 2021, seiring dengan menurunnya persepsi risiko perbankan terhadap dunia usaha setelah pelonggaran kebijakan pembatasan mobilitas," ujarnya dalam konferensi pers virtual, usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (21/9/2021).

Dia pun meminta perbankan untuk melanjutkan penurunan suku bunga dasar kredit guna mendorong lebih lanjut penyaluran kredit kepada dunia usaha.

Perry mengatakan suku bunga kebijakan moneter yang tetap rendah dan likuiditas masih longgar, telah mendorong suku bunga kredit perbankan terus menurun walaupun terbatas.

BI mencatat di pasar uang dan pasar dana, suku bunga PUAB overnight dan suku bunga deposito 1 bulan perbankan telah menurun, masing-masing sebesar 55 bps dan 205 bps sejak Juli 2020 menjadi 2,82 persen dan 3,43 persen pada Juli 2021.

“Bank Indonesia mengharapkan perbankan untuk terus melanjutkan suku bunga kredit sebagai bagian dari upaya bersama untuk mendorong kredit kepada dunia usaha,” ujarnya.

Perry mengatakan kondisi likuiditas perbankan pada Agustus 2021 sangat longgar. Ini tercermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi, yakni 32,67 persen dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 8,81 persen yoy.

Dia menambahkan bahwa likuiditas perekonomian juga meningkat, tercermin pada uang beredar dalam arti sempit (M1) dan luas (M2) yang tumbuh masing-masing sebesar 9,8 persen dan 6,9 persen secara yoy.

Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan masih terbatas pada Agustus 2021, yakni tumbuh tipis 1,16 persen secara tahunan.

Pertumbuhan itu, kata Perry, didorong oleh membaiknya permintaan kredit dari dunia usaha sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, menurunnya suku bunga kredit baru, serta melonggarnya standar penyaluran kredit perbankan.

Perry menyatakan kredit konsumsi dan kredit modal kerja melanjutkan pertumbuhan positif, masing-masing sebesar 2,84 dan 1,27 persen secara yoy. Ini mengindikasikan peningkatan aktivitas konsumsi terutama permintaan pemilikan rumah, serta pemulihan dunia usaha.

Selain itu, kredit UMKM juga terus mengalami peningkatan dengan tumbuh sebesar 2,70 persen pada Agustus 2021. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan kredit pada tahun 2021 diperkirakan dalam kisaran 4 persen hingga 6 persen.

Dalam paparannya itu, Perry juga mengumumkan BI tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7 days reserve repo rate (BI-7DRR) di level 3,50 persen. Keputusan ditetapkan sebagai hasil RDG BI yang digelar pada 20-21 September 2021.

Dia juga menuturkan bank sentral tetap mempertahankan suku bunga deposit facility 2,75 persen dan suku bunga lending facility 4,25 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini