Bizhare Ungkap Dampak Positif Fintech Urun Dana ke Usaha Retail & Franchise

Bisnis.com,23 Sep 2021, 08:28 WIB
Penulis: Aziz Rahardyan
Ilustrasi teknologi finansial/Flickr

Bisnis.com, JAKARTA - PT Investasi Digital Nusantara (Bizhare) membuktikan bahwa skema bisnis industri teknologi finansial (tekfin/fintech) urun dana mampu berjalan baik, dan terbukti berdampak positif buat perkembangan UKM di Tanah Air.

Sekadar informasi, Bizhare merupakan salah satu pemain fintech urun dana atau securities crowdfunding (SCF), yaitu platform penerbitan saham atau surat utang dari proyek bisnis para UMKM atau usaha rintisan (startup) selaku 'Penerbit' dan mempertemukan mereka dengan para investor yang disebut 'Pemodal'.

"Buat pemodal, kami punya misi buat membantu lebih banyak masyarakat Indonesia bebas finansial lewat passive income, yang salah satu jalannya dengan investasi urun dana. Sementara untuk penerbit, kami punya target mengakomodasi 2.000 bisnis sampai 2025," ujar CEO Bizhare Heinrich Vincent dalam diskusi virtual, Rabu (22/9/2021).

Terkini, fintech di tahap pre-series A yang berdiri sejak 3 tahun lalu ini telah menggandeng lebih dari 57.000 investor dari seluruh wilayah Indonesia dengan berbagai latar belakang.

Gatot Adhi Wibowo, Founder & CFO Bizhare sekaligus Co-CEO Bizhare Syariah, mengungkap bahwa dampak positif yang paling terasa dari 57 penerbit yang telah Bizhare bantu mengakses permodalan, pasti membuka lapangan pekerjaan baru.

"Setiap kami membantu pendanaan, mereka setelah itu pasti butuh 5-12 tenaga kerja baru, apalagi buat proyek membuka cabang baru. Artinya, para penerbit Bizhare telah membuka lebih dari 500 lapangan kerja baru," jelasnya.

Sekadar informasi, kebanyakan penerbit yang memanfaatkan platform Bizhare untuk meraup permodalan berasal dari sektor new retail atau franchise. Bidang F&B mendominasi sampai 41 persen, disusul ritel, agrikultur, jasa, dan bisnis laundry.

Adapun, Gatot mengungkap bahwa para penerbit eksisting telah mampu mulai mencetak profit walaupun mengarungi masa pandemi. Total omzet dari para penerbit mencapai Rp82 miliar, rata-rata balik modal setelah 34-90 bulan, dan mereka mampu membagikan dividen ke para pemodal berkisar di 12-72 persen.

Tiga sektor penerbit penyumbang omzet terbesar berasal dari usaha di sektor retail (Rp36,5 miliar), fashion (Rp20,3 miliar), serta F&B (Rp6,97 miliar). Beberapa brand top penyumbang pertumbuhan, antara lain Isla Holding, Alfamart Perawang Riau, Flip Burger Karawaci, Djakarta Cafe Sarinah, dan Sour Sally Green Sedayu.

Bizhare sendiri memiliki divisi business support untuk membantu para penerbit untuk survive dan bertumbuh. Platform pun masih menerapkan seleksi ketat karena dari calon penerbit yang tertarik mencapai 5.000 usaha, kebanyakan masih dalam masa inkubasi.

Penerbit yang sudah bisa ditawarkan ke para pemodal hanyalah mereka yang memiliki prospek baik dan punya potensi tumbuh, terutama dalam mengarungi era new normal.

"Lewat strategi ini, buktinya beberapa penerbit sudah bisa membuka 4 sampai 12 outlet baru setelah mendapatkan permodalan di era new normal ini. Minimal akan ada 5 tenaga kerja yang terserap di setiap outlet," tambahnya.

Turut hadir, Ketua Kehormatan WALI & Ketua Komite Tetap bidang Franchise, Lisensi, dan Kemitraan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Indonesia Levita Supit yang mengungkap bahwa platform SCF merupakan salah satu jalan keluar mendukung pertumbuhan pelaku bisnis waralaba di Indonesia.

"Kontribusi Bizhare membuat pelaku usaha bergairah, karena mereka pasti lebih semangat untuk mengembangkan dan membuat bisnisnya bertumbuh lewat solusi akses permodalan alternatif secara digital. Karena mayoritas pelaku usaha waralaba itu anak muda," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini