Multifinance Jadi Pilihan Usaha Mikro & Kecil, Apa Penyebabnya?

Bisnis.com,03 Okt 2021, 22:10 WIB
Penulis: Aziz Rahardyan
Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memberikan kata sambutan pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2019 dan Arahan Presiden RI di Jakarta, Jumat (11/1/2019). Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Industri pembiayaan (multifinance) menjadi pilihan usaha mikro dan kecil tergambar dari moncernya porsi pembiayaan ke segmen tersebut. 

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2021, dari total outstanding Rp383,77 triliun, hanya kategori usaha mikro dan kecil yang tumbuh positif. 

Porsi outstanding kategori usaha mikro sebesar Rp37,63 triliun naik 3,07 persen (year-to-date/ytd) dari akhir 2020 dan naik 20,59 persen (year-on-year/yoy) secara tahunan. 

Sementara itu, outstanding untuk kategori usaha kecil sebesar Rp36,23 triliun, bahkan bertumbuh pesat dengan double digit, yaitu 14,4 persen (ytd) dari akhir 2020 dan 38,2 persen (yoy) secara tahunan. 

Lainnya, seperti konsumtif (Rp203,85 triliun) masih turun 2,5 persen (ytd), usaha menengah (Rp43,7 triliun) turun 5,6 persen (ytd), sementara usaha besar (Rp62,35 triliun) juga turun 1,1 persen (ytd). 

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengungkap bahwa selama pandemi, kebutuhan permodalan buat para pelaku usaha di segmen ini memang terbilang sulit dipenuhi lembaga jasa keuangan lain. 

"Padahal, di era new normal ini kebutuhan mereka untuk survive semakin beragam. Ada yang butuh dana tunai, ada juga yang motor buat antar dagangannya di era serba online ini, ada lagi untuk gadget. Walaupun memang sulit dibedakan tujuannya apakah untuk murni produktif atau campur konsumtif, tapi mereka butuh," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (3/10/2021).

Tren ini pula yang membuat outstanding jenis pembiayaan modal kerja senilai Rp27,96 triliun masih tetap tumbuh 13,5 persen (ytd) dari akhir 2020, di tengah pembiayaan investasi, multiguna, dan syariah yang masih terkontraksi. 

Suwandi menambahkan bahwa salah satu pendorong lain, yaitu usaha mikro dan kecil lebih fleksibel, mereka justru tengah gencar mengumpulkan aset, mumpung harganya terjangkau. 

Adapun, perusahaan besar tampak masih melakukan efisiensi karena terpengaruh pandemi, sehingga masih menahan ekspansi. Kalau pun butuh permodalan, biasanya mengambil dari perbankan karena terdorong banyaknya insentif yang diberikan pemerintah. 

"Karena kita tahu, di tengah krisis, usaha mikro dan kecil ini kan yang menopang ekonomi, bahkan banyak yang masih tumbuh. Yang tadinya kecil dan usaha rumahan, sekarang sudah mulai butuh pick-up misalnya. Ini multifinance yang akan bantu fasilitasi pembiayaan," tambahnya. 

Selain itu, salah satu yang ikut mendorong piutang pembiayaan produktif oleh multifinance adalah maraknya permintaan pembiayaan invoice jangka pendek dari mitra kerja. Mitra ini mudah diberikan pembiayaan karena sudah lama bekerja sama, rekam jejaknya terjamin, dengan payor yang juga terpercaya. 

Contohnya, mulai dari diler, bengkel, debitur badan usaha yang memiliki relasi dengan leasing, atau pelaku usaha yang masih memiliki piutang berjalan atas kredit kendaraan atau kredit investasninya dengan riwayat yang bagus. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: M. Nurhadi Pratomo
Terkini