Dari Usaha Lidi Nipah, Nasabah BTPN Syariah Ini Bisa Beli Kebun Sawit

Bisnis.com,09 Nov 2021, 07:37 WIB
Penulis: Thomas Mola
Nur, 44 tahun (paling kanan) saat mempraktekkan mengayam lidi nipah yang berhasil mengantarkannya mampu membeli lahan sawit seluas 4 hektare. Nur adalah Ketua Sentra Kedukan Bukit 7, salah satu sentra nasabah PT BTPN Syariah Tbk. yang memproduksi keranjang lidi nipah untuk wilayah Palembang dan sekitarnya./Bisnis-Thomas Mola

Bisnis.com, JAKARTA-- Sejumlah keranjang anyaman lidi nipah ditumpuk berderet di depan rumah hijau di gang sempit di Kampung Kedukan Bukit, Palembang, Sumatra Selatan. Tumpukan keranjang anyaman lidi nipah itu sekitar 1 meter yang terdiri dari berbagai ukuran mulai dari ukuran kecil hingga paling besar.

Pemilik rumah di gang sempit itu adalah Nur Aini dan Efendi. Ibu Nur, 44 tahun adalah ketua sentra Kedukan Bukit 7, salah satu sentra nasabah PT BTPN Syariah Tbk. Bersama sekitar 10 orang anggotanya, sentra Kedukan Bukit 7 telah menjadi salah satu produsen keranjang lidi nipah untuk wilayah Palembang dan sekitarnya. 

“Saya tidak punya usaha sama sekali sebelumnya. Kemudian mencoba membuat kerajinan ini. Alhamdulillah, sudah 5 tahun dan usaha kami berkembang,” kata Nur membuka obrolan saat Bisnis menyambangi rumahnya akhir pekan lalu di Palembang.

Awal usaha kerajinan anyaman lidi nipah, kata Nur, ketika dia diajak oleh ketua RW yang sekaligus ketua sentra BTPN Syariah di Kedukan Bukit. Nur kemudian tekun menggeluti usaha tersebut hingga dapat mempekerjakan sekitar 10 ibu-ibu di sekitar rumahnya. Para ibu itu tergabung dalam sentra Kedukan Bukit 7 yang juga menjadi nasabah BTPN Syariah.

Hasil anyaman lidi nipah kemudian dibeli oleh para pengepul dari Kota Palembang. Rata-rata per minggu, sentra Kedukan Bukit 7 mampu memproduksi 500 ikat anyaman lidi nipah. “Setiap ikatan terdiri dari 25 buah ayaman. Harga paling murah mulai dari Rp5.000 hingga Rp17.000 untuk yang ukuran besar,” katanya.

Nur menceritakan, 5 tahun lalu dia memulai usahanya dengan pinjaman Rp5 juta dari BTPN Syariah. Pinjaman itu diberikan tanpa agunan karena yang menjadi agunan adalah kesolidan sentra Kedukan Bukit 7.

Seiring waktu, usaha kerajinan lidi nipah juga terus berkembang. Saat ini, Nur memiliki platform pinjaman Rp40 juta yang bakal selesai dalam waktu 7 bulan ke depan. Berkat kerja keras dan kedisiplinan usaha ayaman, keluarga Nur mampu membeli kebun sawit seluas 4 hektare (ha), membuka warung kelontong di rumah, serta menjadi agen penjualan ice cream.

“Kami didampingi petugas BTPN Syariah dan mengajarkan untuk tidak hanya satu usaha. Awalnya mau beli emas, tapi takut hilang lalu bersama suami putuskan beli kebun sawit 3 tahun lalu,” katanya.

Kerja keras Nur juga membawanya terpilih menjadi nasabah inspiratif BTPN Syariah dan diberangkatkan umroh pada 2019. Nur berprinsip wanita harus bisa membantu ekonomi keluarga dan tidak hanya mengandalkan suami.

Efendi, sang suami juga mengamini istrinya. Awalnya Efendi bekerja sebagai juru parkir di pasar, tetapi saat ini sebagian besar waktunya digunakan untuk mendukung usaha kerajinan anyaman lidi nipah dan ice cream “Wanita harus berani, ini juga nilai yang diajarkan BTPN berani, disiplin, kerja keras dan saling membantu [BDKS]. Suami saya juga sangat mendukung usaha ini. Ibu-ibu berani ayo sukses,” katanya bersemangat.

Dwiyono B. Winantio, Direktur PT BTPN Syariah Tbk., menambahkan biasanya usaha para ibu berkembang lebih cepat jika dibantu dan mendapat dukungan penuh dari suami.

Dia menjelaskan BTPN Syariah melalui community officer (CO) secara rutin tiap 2 minggu mengunjungi sentra-sentra usaha nasabah prasejahtera. Kunjungan CO itu bertujuan memberikan pelatihan, pendampingan, edukasi keuangan hingga memantau perkembangan usaha.

Pemberian pinjaman, kata Dwiyono, diberikan berdasarkan perkembangan usaha, mulai dari paling kecil Rp2,5 juta hingga Rp100 juta. Kerajinan anyaman lidi nipah katanya sudah masuk dalam kategori sangat bagus karena pembiayaan dari hanya Rp2,5 juta menjadi Rp40 juta.

“Kami terus berusaha untuk memantau perkembangan usaha dan ekonomi keluarga. Kami mencoba menggali apa yang bisa kami bantu untuk mendukung nasabah inklusi prasejahtera,” tambahnya.

Dwiyono menjelaskan, BTPN Syariah mengembangkan model bisnis untuk nasabah inklusi prasejahtera atau ultra mikro sejak 2014 lalu. Model bisnis ini terus diperbarui dengan tujuan membantu nasabah prasejahtera menjadi sejahtera.

Pada tahap awal,  para ibu membentuk sentra-sentra kecil beranggotakan lebih dari 10 orang yang kemudian dibantu oleh bankir pemberdaya BTPN Syariah. Kelompok kecil ini kemudian mendapatkan pelatihan untuk mengukur kesungguhan dan niat berusaha. Pasalnya, pembiayaan yang diberikan tidak memiliki agunan. Kekompakan dalam kelompok, keberanian, disiplin dan saling bantu menjadi modal dasar untuk menyalurkan pembiayaan nasabah prasejahtera.

“Berkat pendampingan rutin 2 mingguan, non performing financing [NPF] bisa kami jaga di level 2,4 persen,” tambahnya. Bahkan pada periode pandemi Covid-19, kata Dwiyono, usaha nasabah prasejahtera masih dapat terjaga dengan baik. Hal itu nampak dari jumlah restrukturisasi yang terus menurun dari level 70 persen pada awal pandemi menjadi hanya sekitar 10 persen saat ini.

Melihat kinerja hingga kuartal III/2021, Dwiyono menegaskan BTPN Syariah optimistis pembiayaan dapat tumbuh dengan kualitas pembiayaan yang juga terjaga. BTPN Syariah juga akan mengembangkan kantong-kantong nasabah prasejahtera baru di Sumatra seperti di Sumatra Utara, Bangka Belitung dan Bengkulu.  

“Jadi sejumlah kantong-kantong yang sebelumnya tidak terjangkau akan kami coba lebih optimalkan seperti di Sumatra Utara, Babel [Bangka Belitung], dan tahun depan Bengkulu,” imbuhnya.

Sebagai gambaran, hingga kuartal III/2021, BTPN Syariah berhasil membukukan laba bersih senilai Rp1,1 triliun. Kinerja itu ditopang oleh pertumbuhan pada sisi pendanaan dan pembiayaan. Untuk dana pihak ketiga (DPK) BTPN Syariah tercatat mampu menghimpun dana Rp10,6 triliun, tumbuh 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020.

Pertumbuhan DPK juga diimbangi dengan peningkatan pembiayaan yang mencapai Rp10,2 triliun, tumbuh 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020. Pertumbuhan pembiayaan itu juga diimbangi dengan kualitas pembiayaan yang terjaga pada level 2,4 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Puput Ady Sukarno
Terkini