Digitalisasi Shopee Bantu UMKM Berkembang di Tengah Pandemi

Bisnis.com,30 Nov 2021, 22:43 WIB
Penulis: Rayful Mudassir
Konsumen menggunakan dompet digital ShopeePay saat melakukan pembayaran di Jakarta, Rabu (31/3/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Berbekal sedikit pengetahuan di bidang barang dan jasa, Fauzan membulatkan tekad untuk memulai bisnis pakaian pria. Namun, tiga bulan berselang, usaha kecilnya harus mengadapi tekanan akibat pandemi Covid-19.

Bersama karibnya Afandy, Fauzan memulai bisnis clothing dengan fokus pada pakaian laki-laki. Keduanya sepakat menggunakan nama mentereng, Laki Supply. Fauzan sebagai co-founder dan rekannya menjadi founder bisnis tersebut.

Persiapan dibuat sebaik mungkin. Termasuk menyediakan akun pada platform e-commerce. Wajar saja. Ruang maya menjadi area bisnis yang dituju. Selain murah, situs dagang-el dapat menjangkau pelanggan lebih luas.

Pada tahap awal, Fauzan dan Afandy tidak berfikir lama. Mereka memilih Shopee sebagai situs pertama untuk menjangkau pembeli. Fauzan punya alasan sendiri memilih berjualan di platform tersebut.

“Shopee paling gampang diakses, dibanding yang lain, accessible. Itu berdasarkan pengalaman gue. Selain akses, pengguna shoppe banyak," ceritanya kepada Bisnis, Selasa (30/11/2021).

Pilihan awal Fauzan tidak salah. Shopee diakuinya memberikan kontribusi signifikan pada penjualan produk mereka. Dari 5 situs yang digunakan, 40 persen dari total penjualan terjaring dari Shopee.

Dampak Pandemi

Fauzan kemudian menceritakan dampak pandemi terhadap bisnis yang dijalankannya. Laki Supply yang mulai beroperasi pada Januari 2020 mengalami guncangan hebat akibat pandemi Covid-19. Wabah tersebut menghambat pertumbuhan UMKM yang baru seumur jagung ini.

Tekanan ini harus dihadapi di saat merek itu masih mencari peminatnya. Kondisi tersebut menuntut pengusaha kecil berinovasi untuk menggaet pelanggan.

Laki Supply misalnya, mencoba pemberian penawaran diskon hampir pada seluruh produknya. Rerata, produk yang diberi potongan harga sekitar 30 persen - 40 persen.

“Kedua, kami berupaya untuk memperbanyak produk Laki Supply agar pembeli mendapatkan pilihan lebih banyak,” ujar Fauzan.

Bisnisnya merambah lebih banyak produk, mulai dari casual shirt, formal shirt, polo, hawaiian shirt hingga celana chino. Belakangan mereka juga bermain pada bisnis parfum. Usaha ini sedikit banyak sukses menjaring lebih banyak pelanggan. Hingga kini, Laki Supply telah dibeli oleh masyarakat luas terutama dari wilayah Sumatra dan Jawa.

Pengalaman serupa dialami brand VAIA. Bisnis footwear milik Edgar dan Fanie ini harus beradaptasi dengan keadaan untuk mempertahankan penjualan. Pandemi menjadi tantangan tersendiri dalam mencari peluang dan meraup cuan lebih banyak.

Sempat mengalami tekanan pada awal pandemi, VAIA beruntung cepat menemukan diversifikasi bisnis produknya agar mudah diterima konsumen. VAIA kini menjadi salah satu merek besar di Shopee meski baru bergabung sekitar 14 bulan terakhir.

Selama wabah masih menerpa, VAIA yang semula berkonsentrasi pada alas kaki wanita, perlahan turut terlibat dalam produksi masker. Bedanya, masker buatan pasangan suami istri ini lebih modern dan kental sentuhan glamor.

“Kami jual masker. Kami jahit sendiri. Kami alihkan dari jahit sepatu ke masker. Kemudian kami buat kantong belanja nonplastik. Kami harus pintar melihat peluang,” ungkap Edgar.

Dari cerita keduanya, digitalisasi menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan bisnis di tengah menurunnya daya beli masyarakat. Keengganan masyarakat melakukan transaksi langsung menjadi peluang bagi situs belanja online.

Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengatakan bahwa sektor UMKM menjadi yang paling terdampak pandemi. Covid-19 menjadi masa suram terlebih bagi usaha mikro.

Sementara itu, usaha kecil menengah dinilai masih mendapat kesempatan untuk bertahan di tengah menurunnya daya beli akibat penyebaran virus berkepanjangan. CORE menemukan bahwa sektor digitalisasi menjadi salah satu pendorong UMKM bertahan selama hampir dua tahun sejak virus merebak.

Dari ragam jenis UMKM, makanan dan minuman mendapatkan respons paling bagus dari pembeli. Masyarakat dinilai mulai enggan untuk membeli makan secara langsung. Mereka memilih untuk membeli melalui platform digital.

“Masyarakat beralih dari sebelumnya melakukan kontak fisik, menjadi sesuatu yang tidak lagi mengharuskan datang langsung ke tempat,” katanya kepada Bisnis.

Posisi kedua adalah barang sekunder termasuk pakaian dan peralatan harian lainnya. Meski mengalami penurunan, namun industri ini dapat tidak sepi pembeli. Bahkan pada momen tertentu, pembelian produk harian bisa meningkat tajam seperti hari besar keagamaan.

Adapun, industri paling tertekan menurut riset CORE Indonesia adalah peralatan elektronik. Meski masih memiliki peminat berbelanja secara daring, namun volume pembelian produk tersier paling mengalami gejolak dibandingkan dengan industri lain.

Pemerintah sejatinya turut mendukung pengembangan UMKM dalam negeri. Hal tersebut dapat dilihat dari penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) telah mencapai Rp177,7 triliun kepada 4,8 juta debitur per September 2021.

Angka itu setara dengan 70 persen dari target Rp253,64 triliun hingga akhir tahun. Adapun, usaha skala menengah mencatatkan porsi 44,12 persen total kredit. Selanjutnya, Banpres Produktif Usaha Mikro juga telah disalurkan sebesar Rp14,21 triliun atau 92,35 persen kepada 11,8 juta usaha.

Selain dukungan ini, Faisal menilai pemerintah perlu memberi dukungan langsung seperti pelatihan bagi usaha mikro. Kelas ini dinilai masih mengalami keterbatasan dalam mengakses digitalisasi.

Kampus UMKM Shopee

Di sisi lain, platform e-commerce, Shopee memberi ruang lebih luas bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mengembangkan bisnisnya. Perusahaan mengembangkan Kampus UMKM Shopee Ekspor sebagai komitmen mendukung produk dalam negeri.

Program ini memberikan kemudahan bagi penyediaan fasilitas untuk pelaku UMKM mengembankan bisnisnya. Mereka dituntun untuk berjualan online dan menjangkau pembeli di pasar global. Beberapa negara di antaranya seperti Malaysia dan Brasil.

Saat ini, perusahaan telah membangun tiga lokasi Kampus UMKM Shopee Ekspor yakni di Solo, Bandung dan Semarang. Fasilitas ini diberikan secara cuma-cuma oleh plaform e-commerce tersebut.

“Kami terus mendukung pelaku usaha lokal mengembangkan bisnisnya. Bahkan kini banyak produk buatan Indonesia telah merambah pasar luar negeri seperti Malaysia,” terang Direktur Shopee Indonesia Handhika Jahja belum lama ini.

Salah satunya adalah produk fesyen muslim Indonesia. Produk buatan anak bangsa kata dia telah menjadi pilihan bagi masyarakat luar negeri. Beberapa negara seperti Malaysia, Singapura hingga Filipina.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Fitri Sartina Dewi
Terkini