Ada Potensi Banjir Rob di Kampung-Kampung Nelayan Jateng

Bisnis.com,06 Des 2021, 21:34 WIB
Penulis: M Faisal Nur Ikhsan
Warga Kampung Tambak Lorok menunjukkan ketinggian air./Bisnis-Muhammad Faisal Nur Ikhsan

Bisnis.com, SEMARANG – Warga di Kampung Nelayan Tambak Lorok yang berlokasi di pesisir utara Kota Semarang hingga kini masih mengalami bencana banjir rob.

Tingginya air laut ditambah genangan air saat hujan memperparah kondisi banjir yang setiap harinya merendam jalan-jalan kampung hingga ke rumah-rumah warga.

Slamet Ari Nugroho, warga Tambak Lorok sekaligus ketua DPD Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Semarang menyebut bencana banjir rob tersebut sudah dirasakan warga selama dua tahun terakhir.

Sayangnya, hingga saat ini banjir rob masih belum masuk ke dalam kategori bencana alam. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Safrudin, Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Harian (Plt. Kalakhar) BPBD Provinsi Jawa Tengah.

“Memang secara tekstual [banjir rob] belum [masuk kategori bencana]. Tetapi menurut saya, secara kontekstual sudah masuk. Karena itu mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat,” jelasnya saat dihubungi Bisnis, Senin (6/12/2021).

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Bisnis, hingga saat ini ada 10 klasifikasi bencana alam yang dicatat BPBD Provinsi Jawa Tengah. Kesepuluh klasifikasi tersebut antara lain gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, tanah longsor, banjir, banjir bandang, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, angin puting beliung, serta gelombang pasang.

Meskipun belum dikategorikan sebagai bencana alam, Safrudin menjelaskan bahwa BPBD Provinsi Jawa Tengah akan tetap berupaya untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak banjir rob. Tidak hanya di Kampung Tambak Lorok, tapi juga di daerah-daerah lainnya di Jawa Tengah.

“Penyaluran selalu berjalan, artinya kita tidak terjebak pada terminologi jenis bencana itu sudah masuk atau tidak. Tetapi pertimbangannya apakah menimbulkan dampak bagi masyarakat. Seperti misalnya di Pekalongan, itu sekarang malah ada 200-an pengungsi dua minggu terakhir,” jelas Safrudin.

Safrudin juga mengungkapkan bahwa kampung-kampung nelayan di Jawa Tengah, utamanya di pesisir utara, berisiko mengalami banjir rob. Salah satu penyebabnya adalah fenomena land subsidence atau penurunan muka tanah.

“Di Pekalongan itu lajunya berdasarkan kajian antara 2-11 centimeter per tahun. Seperti di Demak, malah sudah ada kampung yang hilang karena abrasi itu. Di Pati itu juga ada, tinggal dampaknya apakah cukup di pantai atau sampai permukiman,” jelas Safrudin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Miftahul Ulum
Terkini