OJK Sebut AI dan 5G Sebagai Kunci Perkembangan Fintech di Indonesia

Bisnis.com,11 Des 2021, 11:47 WIB
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso ketika memberikan laporan dalam Seremoni Pembukaan Perdagangan BEI Tahun 2021, Senin (4/1/2021).

Bisnis.com, JAKARTA – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso meyakini peningkatan kemampuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan jaringan 5G sebagai kunci kemajuan industri fintech di Indonesia.

Menurutnya, sekarang sudah bukan era lagi untuk menganalisis sesuatu secara fisik.

“Semua harus pakai robotic processing, tanpa itu tidak maksimal dan ini harus kita persiapkan. Lalu distribusinya, dan juga konektivitas 5G. Kalau tidak, lewat, karena di negara lain sekarang semuanya sudah 5G dan coverage lebih luas,” kata Wimboh dalam acara Fintech Summit Sabtu (11/12/2021).

Sebagai pengawas dan regulator lembaga keuangan, fintech serta perbankan di Indonesia, Wimboh juga berkata bila OJK selalu berupaya memberikan contoh.

Dalam hal mengawasi bank, misalnya, OJK terus mengurangi aktivitas kunjungan fisik dan memperbanyak analisis menggunakan platform yang mereka kembangkan sendiri.

“Kami melakukan pengawasan industri yang kita awasi tidak lagi secara fisik. Datang secara fisik kalau ada acara serius dan butuh face to face dengan manajemen bank. Yang lain enggak. Informasi semua sekarang cukup di kantor. Bahkan kita develop aplikasi khusus yang namanya OBOX," ucapnya. 

OBOX atau OJK-BOX, lanjutnya, merupakan aplikasi yang memungkinkan bank untuk meningkatkan alur informasi kepada OJK terutama yang bersifat transaksional. Informasi ini nantinya akan melengkapi laporan yang sudah ada, sehingga OJK dan dapat meningkatkan pengawasan terhadap potensi risiko yang timbul lebih dini. Proyek ini telah mulai diluncurkan dan dijajal OJK sejak 2019.

Hingga hari ini, Wimboh mengklaim OBOX telah mampu membantu OJK melakukan analisis big data lembaga keuangan perbankan di Indonesia dalam waktu singkat.

Bukan hanya lebih efisien secara waktu, terobosan ini juga membuat OJK lebih efisien dalam melakukan pengeluaran.

“Kalau dulu kita harus gaining data ke BPS, harus travel, kadang-kadang satu hari traveling hanya untuk handling data beberapa jam, ini enggak efektif,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Feni Freycinetia Fitriani
Terkini