Tarif Logistik dan Pelayaran Diramal Masih Naik Tahun Depan

Bisnis.com,29 Des 2021, 14:15 WIB
Penulis: Anitana Widya Puspa
Truk melintas di kawasan pelabuhan peti kemas Jakarta International Container Terminal (JICT) di Jakarta, Kamis (19/12/2019). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Investasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memproyeksikan perbaikan kinerja ekonomi akan terus berlanjut tahun depan yang juga berimbas ke sektor pelayaran dan logistik.

Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro Kementerian Investasi Indra Darmawan menuturkan optimisme pertumbuhan ekonomi untuk Indonesia juga mendapatkan berkah masih tingginya harga-harga komoditas di pasar ekonomi dunia. Dengan masih tingginya harga komoditas, sektor logistik dan pelayaran juga terkena dampaknya karena kemungkinan tarif logistik dunia juga melonjak.

"Ini akan berimbas ke bidang shipping, di mana diperkirakan harga-harga logistik dunia itu masih belum akan turun tahun depan. Jadi, tarif untuk pengangkutan barang lintas negara global diperkirakan masih akan tinggi. Sampai ada beberapa analis memperkirakan keseluruhan 2022 masih akan tinggi bahkan sampai 2023," ujarnya, Rabu (29/12/2021).

Naiknya biaya angkut ini disebabkan karena disrupsi perdagangan dan kegiatan ekonomi yang masih terjadi di berbagai belahan dunia akibat pandemi. Indra menyoroti, apabila varian baru Omicron semakin memberikan dampak tentu akan menekan mobilitas dan ekonomi dunia sehingga berujung pada harga logistik yang menjadi tinggi.

Dengan adanya ketidakpastian tersebut, Indra memperkirakan terjadinya perubahan pola perdagangan sehingga para pelaku usaha pelayaran harus mengantisipasinya.

"Bagaimana kegiatan atau situasi yang kita lihat bersama di tahun ini bisa tetap diantisipasi pada tahun depan," imbuhnya.

Menurutnya, dengan kenaikan harga logistik memaksa beberapa negara mengubah pola perdagangannya, seperti mencari pasar yang lebih dekat atau mencari sumber bahan baku alternatif yang lebih dekat dan lancar. Hal ini tentu akan berdampak bagi pelaku usaha jasa pelayaran.

Secara keseluruhan, Indra melihat tahun ini menjadi tahun pemulihan ekonomi bagi Indonesia pasca tertekan sangat dalam pada awal pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia pada 2020.

Dia mengatakan kinerja ekonomi Indonesia pada tahun depan masih akan diuntungkan dari meningkatnya harga komoditas di pasar ekonomi dunia. Apalagi pertumbuhan ekonomi di tahun depan dalam APBN 2022 dipatok sebesar 5,2 persen.

“Gambarannya, banyak yang meramalkan tahun depan ini agak lebih baik, ada optimisme yang kira-kira bisa memandu untuk bisa menjalani tahun depan ini lebih baik lagi,” ujarnya.

Oleh karena itu, pemulihan ekonomi yang terus berlangsung pada tahun ini, diyakininya akan menjadi bekal untuk menuju new normal di tahun 2022. Untuk saat ini beberapa indikator pemulihan mulai terjadi tecermin dari meningkatnya mobilitas masyarakat, kemudian permintaan barang dan jasa meningkat.

Dengan pulihnya kinerja ekonomi dan terakselerasinya vaksinasi, Kementerian Investasi pun optimistis dapat merealisasikan target investasi di tahun depan sebesar Rp1.200 triliun. Target ini jauh lebih tinggi dibandingkan target tahun ini sebesar Rp900 triliun. Bahkan hingga kuartal III/2021, BKPM sudah merealisasikan investasi hingga 73,3 persen atau Rp 659,4 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Rio Sandy Pradana
Terkini