Riset Dompet Digital Terpopuler: OVO dan GoPay Dominan

Bisnis.com,03 Jan 2022, 00:44 WIB
Penulis: Aziz Rahardyan
Seorang warga menggunakan pembayaran nontunai Quick Response Indonesia Standard (QRIS) saat membeli kopi di warung kopi Jalik Rumbuk di Mataram, NTB, Selasa (12/1/2021)./ANTARA FOTO-Ahmad Subaidi

Bisnis.com, JAKARTA – Survei DSinnovative bertajuk Fintech Report 2021 'The Convergence of (Digital) Financial Services' menunjukkan bahwa GoPay dan OVO menjadi yang paling dikenali oleh para respondennya.

Adapun, laporan itu mengungkap tingginya kesadaran masyarakat terhadap platform fintech berlisensi uang elektronik (e-money) atau dompet digital (e-wallet). 

Pasalnya, dari 1.500 responden yang diuji tingkat pengetahuannya terkait berbagai jenis fintech, sebanyak 80,2 persen di antaranya terbilang mampu mengenali para pemain e-money. Klaster ini pun tercatat mendapatkan tingkat awareness tertinggi dibandingkan platform fintech lain, seperti pinjaman online, investasi online, insurtech, dan crowdfunding

Setidaknya terdapat 10 platform penyelenggara e-money yang bisa dikenali para responden. Peringkat teratas dengan persentase dikenali 93,9 persen responden sama-sama diraih dompet digital dalam ekosistem Gojek, yaitu GoPay (PT Dompet Karya Anak Bangsa), dan dompet digital terafiliasi Grup Lippo yakni OVO (PT Visionet Internasional). 

Namun, dari sisi top of mind alias responden sendiri yang menyebutkan nama platform, OVO lebih tinggi dengan persentase 35 persen, sementara GoPay hanya mampu disebut oleh 16,6 persen dari total responden. 

Adapun, peringkat ketiga dari sisi total awareness responden diraih oleh DANA (PT Espay Debit Indonesia Koe) dengan 92,3 persen. DANA juga tampak kuat secara top of mind, menembus peringkat kedua dengan disebut oleh 30,9 persen dari para responden. 

Sementara itu, platform yang setidaknya dikenali lebih dari separuh total responden, yaitu ShopeePay dan LinkAja dengan masing-masing 82,7 persen dan 72 persen, walaupun persentase kedua platform dari sisi top of mind hanya 5,2 persen dan 2,9 persen. 

Platform lain yang turut dikenali oleh para responden, antara lain iSaku (24,5 persen), DOKU (20,3 persen), Sakuku (19,8 persen), Paytren (19,7 persen), dan Uangku (11 persen). Namun, para platform di peringkat buncit ini tampak hanya disebut langsung oleh segelintir responden saja. 

Adapun, apabila dilihat dari persentase responden yang sempat menggunakan platform dompet digital terkait, hanya 4 platform yang dicoba oleh setidaknya separuh dari total jumlah responden. 

OVO menduduki peringkat pertama dengan 58,9 persen, disusul GoPay dengan 58,4 persen. Penyelenggara uang elektronik milik e-commerce Shopee merangsek ke posisi tiga dengan persentase 56,4 persen, sementara DANA juga menempel dengan selisih tipis, 55,7 persen. 

Dompet digital pelat merah LinkAja hanya digunakan oleh 18,4 persen responden. Sisanya, Paytren 3 persen, iSaku 2,9 persen, Sakuku 2,1 persen, DOKU 1,6 persen, dan Uangku 1,4 persen. 

Menariknya, apabila dilihat dari sisi frekuensi penggunaan platform dompet digital dari para responden, pengguna LinkAja tampak mencolok, karena sebagian besar mengaku membuka platform hampir setiap hari. Tak heran, hal ini didorong use-case andalan berkaitan transaksi transportasi massal dan pembayaran jalan tol dari dompet digital yang identik dengan warna merah ini. 

Pengguna ShopeePay yang didominasi kaum hawa, kebanyakan membuka platform 4-6 kali sebulan. OVO pun serupa, walaupun cenderung lebih merata di semua frekuensi waktu. Sementara GoPay banyak dibuka oleh penggunanya 2-3 kali sebulan. 

Adapun, riset ini juga mengungkap kabar baik untuk para fintech klaster dompet digital, yaitu terkait persentase responden yang berminat mencoba jenis platform fintech tertentu dalam waktu dekat. Di mana, dari 1.435 responden, sebesar 20,7 persen di antaranya mengaku berminat mencoba dan mulai aktif bertransaksi menggunakan dompet digital. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Yustinus Andri DP
Terkini